Opini
Opini: Prapaskah, Kemanusiaan dan Ekologi Integral
Namun luka dan krisis itu kemudian dipulihkan dengan puasa - yang merupakan pilar kedua prapaskah.
Oleh: Yantho Bambang
Biarawan Rogationist, tinggal di Manila, Filipina.
POS-KUPANG.COM - Kita sedang berada di pertengahan masa prapaskah, masa yang seringkali dihayati sebagai masa tobat: urusan batin (personal) antara pendosa dan sang Pencipta.
Namun di hadapan realitas dunia yang terluka: bumi yang kian merintih karena eksploitasi (pertambangan, deforestasi, uji coba bom nuklir) dan martabat manusia yang terkoyak oleh ketidakadilan, penindasan, human trafficking, dan perang, prapaskah menuntut makna yang lebih luas: dari sekadar urusan kesalehan personal, ke pemulihan integral (sosial - kemanusiaan dan ekologi). Itulah makna prapaskah yang sejati.
Lantas bagaimana spirit prapaskah memulihkan luka dunia? Jawabannya terletak pada pilar-pilar prapaskah itu sendiri, yakni doa, puasa, dan derma.
Doa: Mengembalikan Kesucian pada Setiap Ciptaan
Perang, ketidakadilan, penindasan, human trafficking, krisis ekologi dan segala macam bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan dan ekologi sejatinya berakar pada apa yang disebut sekularisme radikal atau penyangkalan total akan “kehadiran” (presence) yang Ilahi dalam dunia atau alam ciptaan.
Karena kehadiran yang Ilahi disangkal maka segala sesuatu dijustifikasi demi keuntungan personal.
Baca juga: Opini: Nyepi, Stoikisme, dan Jalan Kebajikan
Alam misalnya dipandang sebagai objek atau komoditas semata-mata sehingga eksploitasi massif dibenarkan.
Demikianpun manusia. Karena subjek lain dipandang dan dianggap saingan, musuh, mainan, dan bahkan komoditas maka mereka bisa diserang, ditekan, dijual, dieliminasi, dan bahkan dibunuh kapan saja.
Kondisi itu kemudian membidani lahirnya luka dan krisis. Dan untungnya, di tengah krisis itu, doa - yang menjadi pilar pertama masa prapaskah - memainkan perannya yang penting.
Namun, doa dalam konteks ini, lebih dari sekadar berkomunikasi dengan Tuhan.
Ia lebih merupakan jembatan untuk memulihkan kembali relasi segitiga yang retak antara Tuhan - sesama - dan alam ciptaan.
Dengan berdoa, manusia tidak hanya mengakui adanya Wujud Tertinggi tetapi juga menyadari kehadiran-Nya dalam segala ciptaan.
Dengan menyadari kehadiran-Nya, maka pandangan dan paradigma kita terhadap yang lain dan seluruh ciptaan akan berubah.
Alam tidak lagi dipandang sebagai objek atau komoditas semata-mata tetapi sebagai sakramen: manifestasi kehadiran yang Ilahi.
Demikianpun subjek yang lain. Mereka tidak lagi dianggap sebagai saingan, musuh, mainan, dan komoditas yang bisa diserang (seperti yang dialami oleh negara-negara di Timur Tengah), ditekan, dijual (seperti yang diami oleh saudari-saudari yang menjadi korban perdagangan orang), dieliminasi dan bahkan dibunuh.
| Opini: Fenomena Seks Bebas dan Krisis Martabat Tubuh di NTT |
|
|---|
| Opini: Paskah dan Etika Interdependensi Lintas Iman di NTT |
|
|---|
| Opini: Tuhan Tidak Pergi dari Luka Kita |
|
|---|
| Refleksi Paskah 2026: Liturgi yang Harus Dirayakan, Interupsi yang Memberdayakan |
|
|---|
| Opini: Ketika Nietzsche Bertemu Paskah- Siapa yang Sebenarnya Mati? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yantho-Bambang.jpg)