Opini
Opini: Dari Via Crucis Menuju Via Lucis
Salib akhirnya menjadi simbol yang sangat kuat bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian dalam kesengsaraan kita.
Jika dalam Via Crucis kita belajar bagaimana Kristus mati karena cinta-Nya yang luar biasa kepada kita, maka dalam Via Lucis kita diajak untuk merayakan bagaimana Ia hidup kembali untuk memberi kita kekuatan baru.
Pesan utamanya sangatlah melegakan bagi jiwa yang lelah: penderitaan dan maut bukanlah kata terakhir dalam narasi hidup kita.
Melalui peristiwa kebangkitan, Tuhan memberikan jawaban yang paling meyakinkan atas segala jeritan hati manusia, yaitu bahwa kegelapan telah dikalahkan secara telak oleh kasih yang menghidupkan.
Perjalanan ini menjadi semacam sekolah kehidupan yang sangat baik karena ia memindahkan fokus kita dari rasa sakit menuju sukacita yang merupakan nilai utama dari kemenangan Paskah.
Menghayati perjalanan dari salib menuju terang berarti kita berani percaya bahwa setiap beban yang kita pikul hari ini memiliki potensi untuk membuahkan sesuatu yang sangat mulia di masa depan.
Kita sering kali merasa terjebak dalam kegelapan karena masalah ekonomi yang menghimpit, konflik dalam keluarga yang tak kunjung selesai, atau penyakit yang merenggut kegembiraan kita.
Dalam situasi gelap seperti itu, godaan terbesar kita adalah percaya bahwa kegelapan itu bersifat mutlak dan abadi.
Namun, semangat Via Lucis mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang berani membawa cahaya kecil di tengah kegelapan tersebut.
Kita dipanggil untuk memiliki sikap batin yang tetap mampu melihat kemungkinan-kemungkinan baru di tengah keterbatasan yang ada.
Sama seperti fajar yang menyingsing di ufuk timur, Via Lucis menunjukkan bahwa kekosongan seperti kubur yang kosong bisa menjadi sesuatu yang sangat indah karena di sanalah kehidupan baru dimulai.
Kita diutus untuk memberi tahu dunia bahwa fajar telah tiba dan ada harapan di balik setiap air mata yang jatuh.
Hubungan antara salib dan terang ini dapat diringkas dalam ungkapan "melalui salib menuju cahaya".
Keduanya adalah dua sisi dari satu keping mata uang yang sama dalam perjalanan hidup kita sebagai manusia.
Jika kita hanya merayakan cahaya tanpa mau mengakui adanya pengorbanan di salib, maka optimisme kita akan menjadi kosong dan tidak memiliki pijakan yang kuat pada realitas dunia yang penuh luka.
Sebaliknya, jika kita hanya meratapi salib tanpa mau melihat cahaya kemenangan, maka kita akan menjadi orang-orang yang paling menyedihkan karena hidup kita seolah tidak memiliki tujuan akhir yang jelas.
| Opini: Manfaat Digitalisasi Bagi Petani dalam Meningkatkan Usahatani |
|
|---|
| Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda |
|
|---|
| Opini: Mengenal Orthoebolavirus, Sebentuk Ancaman Kesehatan Masyarakat Global yang Nyata |
|
|---|
| Opini - Teologi Pembebasan Katolik di Tengah Revolusi AI: Membaca Magnifica Humanitas |
|
|---|
| Opini: Ketika Sekolah Menjauhkan Murid dari Layar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Darvis-Tarung1.jpg)