Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Opini: Habermas dan Akal Budi yang Terluka

Sabtu, 14 Maret 2026 lalu, dunia intelektual merasakan kehilangan besar, dalam sosok Habermas yang meninggal dalam usia 96 tahun

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Sintus Runesi 

Singkatnya, kebenaran dalam kerangka komunikasi Habermasian bersandar pada praktik argumentasi sebagai arena perdebatan yang membuka kemungkinan bagi berlanjutnya tindakan komunikatif.

Seturut itu, kalau kita mendalami lebih jauh jalur pemikirannya, kita akan menemukan bahwa Habermas setia menjejakkan dirinya pada jalur imperatif Kantian, dalam upayanya menerangi kondisi-kondisi masyarakat melalui peran publik akal budi. 

Bagi Habermas, dalam konteks formasi kehendak demokratis, diskursus ruang publik perlu melibatkan sebanyak mungkin pihak, terutama mereka yang akan terimbas langsung kesepakatan-kesepakatan politis. 

Dalam hal ini, proyek emansipasi modernitas hanya bisa berhasil kalau potensi rasionalitas masyarakat diaktifkan secara maksimal melalui diskursus yang memenuhi syarat kejujuran, keterbukaan, bisa dipercaya dan benar. 

Caranya dengan tetap memertahankan permanensi hubungan antara gagasan dengan praksis pengalaman hidup, antara teori dan sejarah, yakni rasionalitas yang berdaya guna secara historis.

Akal yang terluka

Sayangnya, sekali pun berupaya membebaskan rasionalitas dari beragam patologi dirinya, dengan mensistematisasi gagasannya tentang rasionalitas yang lebih terbuka dan dialogis, Habermas tetap terjebak untuk bergerak dalam apa yang bisa disebut di sini sebagai “rasionalitas kejatuhan”, yakni akal budi yang terluka akibat peristiwa kejatuhan Eden. 

Seperti disinggung di depan, Habermas menemukan dalam cara berpikir Heidegger kecenderungan subjektivisme metafisis yang bisa mengubah seorang filsuf menjadi ideolog penguasa totaliter. 

Namun dengan mengikuti Kant, Habermas juga terjebak dalam sebentuk nihilisme kolektif. 

Maksudnya, karena kebenaran adalah produk konsensual, maka tanpa konsensus, kita tidak memiliki kebenaran, entah secara individual maupun secara kolektif. 

Dengan kata lain, kebenaran adalah produk waktu yang terikat pada ruang dan waktu tertentu. 

Kant dengan pelagianisme epistemiknya menegaskan bahwa akal budi  (kodrat) dengan forma-forma a priori dirinya tidak memerlukan bantuan iman (rahmat) dalam aktivitasnya untuk mengetahui, karena dengan daya kekuatan dirinya sendiri, ia mampu mengeluarkan dirinya sendiri dari patologi-patologi dirinya. 

Analog dengan itu, Habermas juga melihat bahwa demokrasi bisa sepenuhnya ditata melalui diskursus deliberatif, karena mengandaikan bahwa dalam diskursus, otomatis pihak yang terlibat akan saling mendengarkan. 

Tetapi kenyataan manusiawi menegaskan bahwa dalam dunia yang penuh kebisingan di mana semua suara perlu didengar, kita banyak kali kita gagal untuk saling mendengarkan, bahkan mungkin juga enggan berusaha mendengarkan. 

Dalam konteks politik harian, penguasa yang membungkam kritik menegaskan bahwa diskursus deliberatif tidak selalu berjalan sesuai harapan Habermas. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa akal budi murni a la Kant tidak ada, atau dalam konteks Habermas, kebenaran yang lahir dari kesepakatan hasil tindakan komunikatif yang murni bersandar hanya pada bahasa sebenarnya tidak kokoh, bahkan pada titik yang terjauh berakhir sebagai nihilisme kolektif. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved