Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Habermas dan Akal Budi yang Terluka

Sabtu, 14 Maret 2026 lalu, dunia intelektual merasakan kehilangan besar, dalam sosok Habermas yang meninggal dalam usia 96 tahun

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Sintus Runesi 

Bagi Habermas, dengan melampaui subjektivitas modern tanpa perlu kembali pada prinsip-prinip metafisika klasik, filsafat tetap mampu memertahankan potensi rasional dari modernitas, menyelamatkan janji emansipasi dan pencerahannya, sekalipun mesti berhadapan dengan beragam patologi internal dari modernitas itu seperti tampak dalam bangkitnya barbarisme terkini.

Oleh karena itu, sekali pun mereka berada pada dua kutub pemikiran yang berbeda, sebenarnya kita bisa mengkategorikan mereka ke dalam barisan pemikir non-fondasionalis. 

Namun, berbeda dengan para post-strutkuralist dan post-modernist, Habermas masih percaya pada kekuatan argumentasi dalam percakapan rasional yang bebas dan terbuka. 

Bagi Habermas, para post-strukturalist dan post-modernist, meninggalkan karakter emansipatif proyek modernitas dan cenderung lebih mengarahkan perhatian dan kritik mereka pada aspek tiranik dan dominatif dari modernitas. 

Ia sebaliknya, mengakui bahwa modernitas bisa bergerak menuju arah yang berlawanan dengan intensi awalnya, tetapi ia tetap menaruh kepercayaan pada dimensi emansipatifnya. 

Dengan historisismenya, Habermas meyakini modernitas bukanlah suatu proyek sekali jadi, tetapi suatu proyek yang belum selesai.  

Seturut itu, salah satu kegagalan modernitas menurut Habermas adalah ketidakmampuannya untuk mengembangkan dan melembagakan seluruh dimensi akal budi yang berbeda-beda secara seimbang. 

Akibatnya, bentuk-bentuk komunikasi kita bersifat manasuka dan tidak mendukung penciptaan ruang publik yang sehat bagi kejamakan yang menjadi karakter utama masyarakat kontemporer. 

Maka sebagai upaya untuk mengatasi kegagalan tersebut, Habermas memulai proyek filofosofisnya dengan beralih dari filsafat kesadaran menuju filsafat bahasa, dari subjek sebagai pusat nilai menuju konsepsi tentang akal budi dan rasionalitas yang bersifat komunikatif. 

Gagasan komunikatif yang telah berkecambah dalam karya habilitasinya itu kemudian dirumuskan secara sistematis dalam dua volume bukunya yang terkenal, Theorie des Kommunikativen Handelns (1984). 

Dalam kerangka teori ini, Habermas mengkonsepkan kebenaran sebagai hasil kesepakatan bersama dari pihak-pihak yang terlibat. 

Sebagai suatu kesepakatan, kebenaran yang dimaksudkan terbuka untuk direvisi terus-menerus, terutama di masa depan. 

Maka, sebagaimana tulis Habermas, siapa pun dapat dicap tidak rasional kalau sikap dan evaluasinya bersifat privatistik atau tertutup, melihat dirinya sebagai ukuran normatif, sehingga tampak tidak masuk akal saat diperhadapkan dan dinilai menurut standar evaluasi yang berlaku. 

Artinya, masuk akalnya pendirian atau alasan seseorang yang melekat pada praktik ini dilihat di dalam fakta bahwa suatu kesepakatan yang dicapai secara komunikatif pada akhirnya harus didasarkan pada akal budi. 

Dengan begitu, semua pihak yang terlibat dapat mencapai kesepakatan bersama tentang kebenaran mana yang paling dapat diterima bersama. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved