Opini
Opini: Aku Klik Maka Aku Diperbudak- Epik Sunyi Peradaban Digital
Pada akhirnya, peradaban digital tidak perlu dihancur-leburkan, melainkan perlu “disadari seutuhnya.”
Heidegger melihat bahwa bahaya terbesar teknologi tidak teletak pada alatnya, tetapi pada cara ia menyingkapka realitas, segala sesuatu, termasuk manusia, direduksi menjadi sesuatu yang siap pakai, terukur, dan dapat dioptimalkan.
Kita bergerak lebih jauh lagi, “Gelassenheit” menemukan maknanya sebagai sikap eksistensial yang hening namun radikal.
Ia adalah seni membiarkan, membiarkan sesuatu hadir sebagaimana adanya, tanpa tergesa untuk mendominasi atau memanfaatkannya.
Ini bukan pasivitas, melainkan bentuk kebebasan yang lebih dalam, kebebasan untuk tidak segera bereaksi.
Dalam dunia yang menuntut kecepatan dan respons instan, “Gelassenheit” menjadi keberanian untuk menunda, untuk mengambil jarak, untuk memberi ruang bagi kesadaran agar kembali bernapas.
Dengan sikap ini, manusia tidak menolak teknologi, tetapi juga tidak larut di dalamnya.
Ia tetap menggunakan, namun tidak diperbudak, ia tetap hadir, namun tidak kehilangan dirinya.
Pada akhirnya, peradaban digital tidak perlu dihancur-leburkan, melainkan perlu “disadari seutuhnya.”
Sebab yang paling berbahaya bukanlah teknologi itu sendiri, tetapi hilangnya jarak antara manusia dan tindakannya, ketika setiap “klik” menjadi menjadi refleks tanpa “refleksi.’
Dalam situasi ini, mungkin tindakan paling radikal bukanlah bergerak lebih cepat, tetapi justru bethenti sejenak, menunda “klik,” merawat keheningan, dan kembali kepada kesadaran yang utuh. (*)
Simak terus berita, cerpen dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rafael-Lumintang-02.jpg)