Opini
Opini: Aku Klik Maka Aku Diperbudak- Epik Sunyi Peradaban Digital
Pada akhirnya, peradaban digital tidak perlu dihancur-leburkan, melainkan perlu “disadari seutuhnya.”
Oleh: Rafael Lumintang
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Sekilas kembali membaca tentang road map filsafat barat modern, saya kembali distimulus untuk merenungkan suatu fenomena kompleks tentang dunia digital.
Dahulu, manusia menegakan eksistensinya di atas altar kesadaran. Para pelajar filsafat dalam lanskap ini, tidak asing lagi dengan ungkapan Rene Descartes, Cogito Ergo Sum artinya Aku berpikir, maka aku ada.
Ungkapan ini seakan menancapkan jangkar keberadaan pada kedalaman refleksi, pada keberanian meragukan, menimbang, dan menyingkap diri di hadapan misteri yang sunyi.
Ada keagungan dalam momentum ini, manusia sebagai subjek yang berjarak dari dunia, yang tidak sekadar hidup, tetapi mengerti bahwa ia hidup.
Baca juga: Opini: Sistem Tanam Marginal
Di tengah banjir bandang notifikasi dan algoritma yang tak terlihat, kesadaran tidak lagi menjadi ruang permenungan, melainkan simpul yang terus-menerus ditarik oleh impuls.
Kita pun bergeser, dari makhluk yang merenung menjadi makhluk yang “bereaksi.” Eksistensi tidak lagi diukur dari kedalaman berpikir, tetapi dari kecepatan “jari menyentuh layar.”
Waktu tidak lagi mengalir sebagai ruang kontemplasi, melainkan terfragmentasi dalam detik-detik respons. Dalam koridor ini, manusia kehilangan jarak dari dirinya sendiri, ia tenggelam dalam arus yang ia ciptakan.
Oleh karena itu, hemat saya, lahirlah sebuah adagium yang pahit dan ironis di sini, “aku klik, maka aku diperbudak.”
Sebab di balik setiap klik, ada ilusi kebebasan yang diam-diam mengikat, menjadikan manusia bukan lagi subjek yang berdaulat, melainkan “instrumen dalam jaringan hasrat yang tak pernah selesai.”
Runtuhnya Subjek Rasional
Peradaban modern pernah menobatkan manusia sebagai pusat kesadaran, “cogito” yang otonon, daya rasionalitas yang menimbang dengan jernih, dan actus yang bergerak dalam horizon kebebasan.
Seturut itu, manusia berdiri sebagai subjek otentik, yang mampu memberi makna pada dunianya melalui ketajaman refleksi. Namun, dalam konteks ini, unsur-unsur digital menggeser takht aitu secara diam-diam.
Rasio tidak lagi menjadi poros, melainkan tersingkir oleh impuls-impuls yang diproduksi dan diarahkan secara sistematis. Kecepatan kini menjadi norma baru, menggantikan kedalaman yang dulu pernah “didewa-dewakan.”
Manusia tidak lagi hidup dalam ritme kontemplasi intelektual, tetapi dalam denyut reaksi yang nyaris tanpa jeda.
Klik, yang saya maksudkan dalam hal ini, bukan sekadar gerak mekanis jari, melainkan tanda dari pergeseran ontologis yang lebih dalam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rafael-Lumintang-02.jpg)