Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Opini: Sistem Tanam Marginal

Pemanfaatan lahan marginal juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada lahan subur yang semakin sempit

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Lahan marginal sering dianggap tidak produktif karena kondisi tanahnya yang kering, miskin nutrien, dan rentan erosi. 

Banyak lahan jenis ini berada di daerah semi-kering yang rawan kekeringan ekstrem, sehingga menimbulkan kesulitan bagi petani tradisional yang bergantung pada pola tanam konvensional.

Namun, pandangan ini mengabaikan potensi ekologis yang dapat dimanfaatkan secara optimal. 

Dengan pendekatan sistematis, lahan marginal mampu menjadi sumber pangan stabil yang mendukung ketahanan pangan lokal. 

Baca juga: Opini: Meritokrasi Politik dan Kredensialisme- Ilusi Keadilan di Balik Panggung Demokrasi

Strategi pertanian yang adaptif lebih penting dibanding sekadar memperbaiki tanah, karena memungkinkan lahan berperan aktif dalam produksi pangan.

Pemanfaatan lahan marginal juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada lahan subur yang semakin sempit akibat urbanisasi dan konversi lahan. 

Pendekatan ini membantu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan pangan dan pelestarian ekosistem, sekaligus memperluas basis produksi pertanian nasional.

Oleh karena itu, memahami karakteristik dan potensi ekologis lahan marginal menjadi langkah awal menuju pertanian tangguh dan berkelanjutan. 

Lahan marginal tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan aset strategis yang mampu mendukung ketahanan pangan, produktivitas, dan keberlanjutan ekologi di era perubahan iklim.

Prinsip Dasar

Sistem tanam merupakan arsitektur ekologis lahan yang mengatur penempatan tanaman, interaksi antarspesies, dan pemanfaatan sumber daya tanah. 

Pada lahan kering marginal, desain sistem tanam harus mampu mengurangi kompetisi antar tanaman sekaligus meningkatkan komplementaritas, sehingga setiap spesies saling mendukung dalam penggunaan air, nutrien, dan cahaya. 

Pendekatan ini memungkinkan lahan yang tampak kurang produktif menjadi aset strategis dalam ketahanan pangan.

Prinsip utama sistem tanam marginal adalah efisiensi sumber daya. Adaptasi terhadap kondisi ekstrem dan keterbatasan air atau nutrien menjadi fokus utama, sehingga produktivitas tetap optimal meski lingkungan menantang. 

Strategi ini meliputi rotasi tanaman, intercropping, dan pemilihan varietas tahan kekeringan, yang secara bersamaan menjaga kesuburan tanah dan menekan risiko gagal panen.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved