Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Tradisi Bertemu Sains dalam Pertanian

Pengetahuan petani pada dasarnya bersifat empiris. Ia lahir dari pengalaman langsung menghadapi berbagai persoalan di lapangan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Tidak semua pengetahuan lahir di laboratorium. Di ladang-ladang desa, para petani telah lama melakukan eksperimen dengan cara mereka sendiri. 

Mangga yang tak kunjung berbuah ditancapi paku atau sedikit dilukai batangnya. 

Pohon sukun yang sering menggugurkan buah diikat dengan alang-alang. Tanaman padi atau jagung yang dianggap kurang subur diasapi dengan minyak dari kulit ikan paus.

Bagi sebagian orang, praktik-praktik ini mungkin terdengar tidak lazim. Namun cara-cara tersebut lahir dari pengalaman panjang yang diuji oleh waktu. 

Setiap musim tanam menjadi ruang belajar bagi petani untuk membaca respons tanaman. 

Baca juga: Opini: Nyepi, Ramadan, dan Bangsa yang Membutuhkan Seni Berdiam Diri

Dari pengamatan yang berulang, mereka menemukan berbagai solusi praktis. Tradisi itu kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Apa yang disebut tradisi sering menyimpan logika yang tidak sederhana. Ia mungkin tidak dirumuskan dalam bahasa ilmiah. Namun di balik praktik-praktik tersebut terdapat pengamatan yang tekun terhadap alam. 

Dalam banyak kasus, pengalaman petani justru mendahului penjelasan ilmiah. Di sinilah tradisi dan sains sebenarnya dapat saling bertemu.

Pengetahuan Lokal

Kearifan lokal petani pada dasarnya merupakan bentuk pengetahuan ekologis. Ia lahir dari kedekatan manusia dengan tanah, air, musim, dan tanaman. 

Dalam kehidupan agraris, petani menjadi pengamat paling setia terhadap perubahan alam. 

Mereka memperhatikan pola musim, kondisi tanah, hingga perilaku tanaman yang mereka rawat setiap hari. Dari pengalaman panjang itulah berbagai praktik pertanian berkembang.

Berbeda dengan ilmu pengetahuan modern yang bertumpu pada eksperimen terkontrol, pengetahuan lokal berkembang melalui praktik nyata di lapangan. 

Setiap musim tanam menjadi ruang percobaan yang berlangsung secara alami. Petani mencoba berbagai cara untuk mengatasi persoalan di ladang. 

Sebagian cara gagal, sebagian lain terbukti berhasil. Yang berhasil kemudian diwariskan sebagai tradisi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved