Opini
Opini: Perawat sebagai Wajah Negara di Desa
Pelayanan kesehatan tanpa dukungan transportasi yang memadai akan selalu berakhir pada kegagalan.
Dalam kondisi darurat, pasien tidak dirujuk melalui sistem yang terstandar, melainkan melalui keputusan isidentil yang penuh risiko.
Dalam perspektif kebijakan publik, kondisi ini mencerminkan implementation failure (kegagalan implementasi): situasi di mana kebijakan tersedia secara formal, tetapi tidak didukung oleh sumber daya yang memungkinkan kebijakan tersebut dilaksanakan.
Dengan kata lain, negara hadir dalam bentuk regulasi, tetapi tidak hadir dalam bentuk layanan.
Akibatnya, sistem rujukan kehilangan makna operasionalnya. Ia tidak lagi berfungsi sebagai mekanisme yang menjamin keselamatan pasien, melainkan sekadar prosedur administratif yang tidak relevan dengan realitas lapangan.
Dampaknya nyata. Di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, pasien dalam kondisi darurat masih harus dirujuk ke daratan Flores menggunakan perahu nelayan.
Tidak ada standar keselamatan medis. Bahkan keselamatan pasien dan tenaga kesehatan sering kali bergantung pada cuaca dan belas kasih laut.
Situasi ini bukan anomali. Ia adalah pola yang berulang di berbagai wilayah kepulauan lainnya.
Ketika kondisi seperti ini terus terjadi, maka jelas bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar keterbatasan teknis.
Ia adalah kegagalan sistemik dalam memastikan bahwa kebijakan yang telah dirumuskan benar-benar dapat dijalankan di lapangan.
Dalam ruang kosong kehadiran negara, perawat menjadi penyangga terakhir sistem. Mereka tidak hanya menjalankan fungsi klinis, tetapi juga mengambil keputusan-keputusan kritis yang seharusnya menjadi tanggung jawab sistem.
Mereka menentukan kapan pasien harus dirujuk, bagaimana cara merujuk, dan dalam kondisi apa risiko harus diambil.
Dalam perspektif street-level bureaucracy (birokrasi tingkat lapangan), sebagaimana dijelaskan oleh Michael Lipsky, pelaksana kebijakan di tingkat bawah memiliki diskresi yang besar dalam menentukan bagaimana kebijakan dijalankan.
Diskresi ini muncul sebagai respons terhadap keterbatasan sumber daya dan kompleksitas situasi yang tidak dapat diantisipasi sepenuhnya oleh kebijakan formal.
Namun, ketergantungan yang berlebihan pada diskresi individu mengandung risiko serius. Ketika pelayanan bergantung pada keputusan personal, maka standar pelayanan menjadi tidak konsisten.
Kualitas layanan dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lain, tergantung pada kapasitas, pengalaman, dan keberanian perawat yang bertugas.
Maria Evarista Sugo
Opini Pos Kupang
Meaningful
Nusa Tenggara Timur
NTT
Persatuan Perawat Nasional Indonesia
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)
| Opini - Tuhan Dalam Layar |
|
|---|
| Opini - Teologi Dalit di Tengah Revolusi AI: Martabat Kaum Tersisi dalam Perkembagan Era Digital |
|
|---|
| Opini - Membangun Generasi, Merawat Ibu dan Alam: Kajian Eko-feminisme Rosemary Ruether |
|
|---|
| Opini: Air, Stunting, dan Rintihan Ekologi NTT |
|
|---|
| Opini: Generasi Cepat Bosan dan Matinya Kedalaman Berpikir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Maria-Evarista-Sugo-03.jpg)