Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Opini - Tuhan Dalam Layar

Gereja dan orang yang percaya harus berteologi secara kritis agar mendapatkan makna Tuhan di balik, melalui, bahkan melampaui layar.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Yohanes Nahak, mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang. 

Opini - Tuhan Dalam Layar

Oleh: Yohanes Nahak
Mahasiswa Fakulstas Filsafat Unwira Kupang

POS-KUPANG.COM - Setiap manusia dari bangun pagi sampai tidur malam pasti tidak akan lepas dari yang namanya teknologi. Apalagi di era modern sekarang ini, semua hal sudah diatur oleh algoritma.

Setiap kegiatan dijalani lewat layar, menonton, scrolling TikTok, dll. Bahkan anak-anak dari kecil sudah diberikan handphone untuk menscrolling TikTok, bayangkan anak-anak dari kecil sudah diatur oleh algoritma. 

Di tengah gempuran teknologi ini, apakah kita masih mencari Tuhan atau hanya mencari konten rohani yang instan dan cepat? Teologi dan layar tidak netral.

Gereja dan orang yang percaya harus berteologi secara kritis agar mendapatkan makna Tuhan di balik, melalui, bahkan melampaui layar.

Gereja dan orang yang percaya harus kritis agar dapat membedakan mana yang dapat memberikan makna yang benar tentang Tuhan di era gempuran teknologi sekarang ini, apakah teknologi, layar dan algoritma lebih memberikan makna yang tepat tentang Tuhan? Atau kah dapat menjerumuskan manusia dalam kesesatan tentang Tuhan?

Dengan kemunculan teknologi, perlahan-lahan paradigma orang yang percaya pada Tuhan dan Gereja mulai mengubah cara ibadah, misalnya ibadah melalui streaming,renungan pendek di media sosial, Alkitab digital,serta kelas teologi via zoom.

Di sisi lain ada baiknya, dengan adanya kemajuan teknologi ini, pewartaan semakin mudah dan cepat, serta instan. Kemajuan teknologi dapat membantu penyebaran teologi dengan mudah dan cepat.

Tetapi sebenarnya teologi membutuhkan teknologi sebagai medium, yang artinya teknologi sebagai perantara teologi di mana teknologi hanya sebagai perantara komunikasi dan bukan sumber wahyu.

Teologi membutuhkan teknologi, tetapi teknologi tidak boleh menggantikan isi dari teologi tersebut. Teologi tidak boleh diatur dan ditentukan oleh algoritma dan tren digital. Ada satu istilah teologi yang muncul di era teknologi sekarang ini, yakni cybertheology atau teologi digital.

Dengan kemunculan istilah cybertheology teologi ingin membaca kembali relasi iman dan teknologi. Di mana dengan kemunculan teknologi, teologi dapat mengkritisi dampak positif dan dampak negatif tentang teknologi, resiko mengunakan teknologi untuk memperdalaman iman, dalam teknologi, segala sesuatu harus dipastikan kebenarannya bukan hanya sekedar percaya, dalam konteks ini jika hanya sekedar percaya maka akan ada resiko, yaitu dangkalnya iman seseorang, karena banyak hoax yang tersebar dalam kemajuan teknologi ini.

Kita harus memahami teologi dengan kriteria injil bukan sekedar dengan logika efisiensi. Teologi harus mengoreksi dan memperdalam cara iman berelasi dengan teknologi di era digital.

Era sekarang ini dikenal juga era big data, melalui teknologi semuanya dapat diketahui. Ini justru menjadi tantangan bagi pewartaan, manusia sering kali dilihat sebagai deretan angka konsumsi dari algoritma tersebut.

Tantangan manusia di era digital atau era big data ini seringkali berdampak pada pewartaan. Berteologi di era digital membawa manusia pada sebuah problematika yang sangat serius dan tidak sedikit.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved