Senin, 15 Juni 2026

Opini

Opini: Bunuh Diri dan Keagungan Martabat Manusia

Santo Agustinus menilai bunuh diri sebagai tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kehidupan manusia adalah karunia.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
ILUSTRASI 

Oleh: Fr. Stefan Bandar, RCJ. 
Tinggal di Manila Filipina

Catatan editor: Berita atau artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.

POS-KUPANG.COM - Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik dan media sosial diwarnai oleh berbagai berita mengenai kasus bunuh diri

Harian Pos Kupang pada 23 April 2026 melaporkan kasus bunuh diri yang terjadi di Desa Ngampang Mas, Kecamatan Borong, ketika seorang pria mengakhiri hidupnya sendiri. 

Baca juga: Opini: Perjumpaan dengan Allah di Era Cyber Menurut Santo Yohanes dari Salib

Sebelumnya, pada 14 April, media yang sama juga memberitakan tindakan bunuh diri yang dilakukan seorang kepala pos polisi di Manggarai Timur. Pada 30 April 2026, kembali dilaporkan kasus serupa yang terjadi di Maumere. 

Kejadian terbaru adalah fenomena bunuh diri dari seorang ayah dan anak yang terjadi pada 11 Juni 2026 di Kecamatan Lamba Leda, kabupaten Manggarai Timur.

Fenomena ini menjadi semakin memprihatinkan ketika Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada awal tahun 2026 merilis data mengenai kasus bunuh diri pada anak dan remaja di Indonesia sebanyak 120 kasus dalam rentang tahun 2023–2026. 

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan bunuh diri tidak lagi hanya terjadi pada kelompok usia dewasa, tetapi juga telah menjangkiti kalangan anak-anak dan remaja. 

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai faktor-faktor yang mendorong seseorang memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Berbagai spekulasi kemudian muncul di tengah masyarakat terkait latar belakang tindakan tersebut, mulai dari persoalan ekonomi, judi daring, utang, tekanan psikologis, konflik keluarga, hingga beban sosial lainnya. 

Namun, di balik berbagai faktor tersebut, muncul pertanyaan yang lebih fundamental: mengapa bunuh diri dipilih sebagai jalan keluar? 

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi nilai moral, agama, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia.

Bunuh Diri sebagai Pelanggaran terhadap Hak Allah atas Kehidupan

Dalam perspektif teologis Kristen, manusia dipahami sebagai makhluk ciptaan Allah. Kehidupan manusia bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan merupakan anugerah dari Allah. 

Dalam kisah penciptaan,  dikisahkan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah dan menerima napas kehidupan dari Allah (bdk. Kejadian 2:7). Dengan demikian, sumber kehidupan manusia berada di luar dirinya, yakni Allah sendiri.

Pemikiran ini kembali didengungkan oleh Thomas Aquinas di mana ia menyebut manusia sebagai causa secunda, yaitu penyebab yang keberadaannya bergantung pada causa prima, yakni Allah. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved