Opini
Opini: Jadilah Manusia!
Di tengah hiruk-pikuk algoritma dan determinisme digital, muncul kebutuhan mendesak untuk kembali kepada hakikat kemanusian sejati.
Oleh: Melki Deni, S. Fil.
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.
POS-KUPANG.COM - Sekitar setengah juta lebih orang dari berbagai keuskupan berjalan menuju Paseo de la Castellana di Madrid, Spanyol, untuk “berjaga-jaga” ( vigilia) dengan Paus Leo XIV pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Beberapa teman dan saya dalam satu grup Serikat Sabda Allah (SVD) keluar dari Taman Isabel II sekitar jam 4 sore menuju Paseo de la Castellana, tepatnya di zona C22.
Kami bernyanyi, dan berbincang-bincang di dalam perjalanan tanpa peduli dengan terik matahari dan udara panas musim panas Eropa yang menggerahkan.
Di sana, kami menyaksikan konser musik rohani, teater, testimoni iman dan pengalaman rohani dari beberapa orang. Yang paling dinantikan adalah diskursus dari Paus Leo XIV, dan adorasi bersamanya.
Paus Leo XIV, di bawah moto “Alza la mirada” (Tengadakanlah pandanganmu!) dari Yohanes 4:35, berbicara tentang darurat martabat manusia di tengah kemajuan teknologi, krisis keadilan, dan masalah peperangan.
Baca juga: Opini: Membumikan Ensiklik Magnifica Humanitas di Tengah Badai Penipuan AI di NTT
Dunia kita sedang mengalami guncangan fundamental tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga struktur terdalam eksistensi manusia.
Kondisi ini menyebabkan kita berada di persimpangan antara pembangunan martabat sejati atau penghancuran diri melalui teknologi (autoekploitasi).
Kita saat ini sibuk menundukkan kepala bukan untuk berdoa, atau berpikir, melainkan melihat dunia yang diperkecilkan pada layar ponsel pintar.
Kita sedang kehilangan kemampuan bertekuk lutut, menciptakan keheningan, menengadahkan kepala (bersujud menyembah), menerima rahmat demi rahmat dari Allah.
Di tengah hiruk-pikuk algoritma dan determinisme digital, muncul kebutuhan mendesak untuk kembali kepada hakikat kemanusian sejati.
Dengan melakukan sintesis pemikiran Paus Leo XV tentang etika digital, filsafat perhatian Simone Weil (1909–1943), dan hermeneutika makna Jean Grondin (1955-), kita dapat memetakan navigasi moral bagi manusia yang hidup di bawah bayang-bayang Kecerdasan Buatan (AI) dan media sosial.
Paus Leo XIV menggunakan dua citra alkitabiah untuk menggambarkan kondisi teknologi saat ini: Menara Babel (Kej 11:1-9) dan pembangunan Kembali tembok Yerusalem oleh Nehemia (Neh 1-6).
AI dan media sosial sering kali dibangun dengan semangat Babel, sebuah ambisi otonom yang ingin “menyamai Tuhan”, namun berakhir pada kebingungan bahasa, alienasi sosial, dan eksploitasi digital (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, Kota Vatikan: Librería Editrice Vaticana, 2026, no. 7-10).
Dalam pandangan Paus Leo XIV, teknologi digital saat ini telah menciptakan “paradigma teknokratis” yang cenderung mereduksi manusia menjadi sekadar data.
Opini Pos Kupang
Melki Deni
Paus Leo XIV
Paus Leo
Magnifica Humanitas
ensiklik
kecerdasan buatan
etika kecerdasan buatan
Artificial Intelligence
| Opini - Rahmat Tanpa Tembok: Membaca Sakramen Tobat di Tengah Jalanan |
|
|---|
| Opini - Ketika Vatikan dan Dunia Buddha Turun ke Akar Rumput Asia |
|
|---|
| Opini - Penerapan Konsep Ekosipasi di NTT Perspektif Robertus Robet |
|
|---|
| Opini - Kemiskinan di NTT sebagai Tantangan Pastoral: Perspektif Teologi Kontekstual |
|
|---|
| Opini: Rajin Olahraga tetapi Kena Diabetes? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melki-Deni1.jpg)