Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Menanam Iman di Tanah Kering- Liturgi Hijau dari Bumi Flobamora

Suatu hari nanti, kita berharap dunia tidak lagi mengenal NTT hanya sebagai wilayah yang identik dengan kekeringan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/ONONG BORO
Winston Rondo. 

Ia adalah liturgi hijau—sebuah bentuk ibadah yang diwujudkan dalam tindakan merawat bumi.

Alkitab sejak awal telah menegaskan mandat itu. Dalam Kejadian 2:15, manusia ditempatkan di taman Eden untuk “mengusahakan dan memelihara” bumi. 

Mandat ini bukan sekadar perintah ekonomi untuk memanfaatkan alam, tetapi juga panggilan spiritual untuk menjaga keberlangsungan ciptaan.
Dengan cara pandang ini, menanam pohon bukan sekadar kegiatan ekologis. 

Ia adalah tindakan iman. Setiap bibit yang ditanam adalah kesaksian bahwa manusia percaya bumi ini adalah titipan Tuhan yang harus dipelihara bagi generasi yang akan datang.

Ekonomi Pohon: Menanam Harapan bagi Jemaat

Namun gerakan menanam pohon di NTT tidak boleh berhenti sebagai simbol moral atau seremonial lingkungan. Ia harus menjadi strategi ekonomi rakyat.

NTT membutuhkan paradigma baru pembangunan pedesaan yang bertumpu pada ekonomi pohon—sebuah model ekonomi yang menggabungkan konservasi lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu contoh nyata adalah Asam Timor (Tamarindus indica). 

Pohon ini adalah tanaman asli yang sangat adaptif terhadap iklim kering NTT. 

Ia mampu bertahan dalam kondisi tanah yang keras, memiliki umur produktif puluhan tahun, dan menghasilkan buah dengan nilai ekonomi yang stabil.

Satu pohon asam dewasa bahkan dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan kilogram buah setiap tahun.

 Di berbagai daerah, asam telah menjadi komoditas perdagangan yang menopang ekonomi rumah tangga.

Karena itu, pohon asam dapat dipandang sebagai tabungan hidup bagi keluarga petani.

Dalam skala gerakan, DPD GAMKI NTT bersama jemaat di Klasis GMIT Amabi Oefeto Timur telah memulai langkah kecil tetapi penting.

Sepanjang tahun 2025, kebun bibit yang dikelola bersama berhasil memproduksi sekitar 10.000 anakan pohon Asam Timor, yang telah ditanam di berbagai wilayah pelayanan.

Sepuluh ribu bibit itu bukan sekadar angka. Ia adalah sepuluh ribu kemungkinan masa depan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved