Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Menanam Iman di Tanah Kering- Liturgi Hijau dari Bumi Flobamora

Suatu hari nanti, kita berharap dunia tidak lagi mengenal NTT hanya sebagai wilayah yang identik dengan kekeringan. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/ONONG BORO
Winston Rondo. 

Oleh: Winston Rondo
Ketua DPD GAMKI Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Beberapa hari terakhir kita masih mendengar sisa rintik hujan jatuh di atap seng rumah-rumah di Nusa Tenggara Timur ( NTT). Tanah yang basah selalu menghadirkan rasa syukur bagi setiap keluarga petani. 

Namun di balik syukur itu, tersimpan kecemasan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Masyarakat NTT tahu betul bahwa musim hujan di daerah ini selalu datang singkat dan pergi terlalu cepat. 

Curah hujan tahunan di sebagian besar wilayah NTT hanya berkisar antara 800 hingga 1500 milimeter, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai sekitar 2.700 milimeter per tahun. 

Baca juga: Opini: Kecerdasan Ekologis Pertanian

Dalam praktiknya, hujan sering kali hanya berlangsung tiga hingga empat bulan, sementara kemarau dapat membentang hingga delapan bulan.

Artinya, setiap tetes air hujan adalah kehidupan.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah kita membiarkan air hujan itu mengalir begitu saja menuju laut, atau kita belajar menyimpannya di dalam tanah?

Di tengah lanskap yang sering dilabeli sebagai wilayah kering, Tuhan sebenarnya telah menitipkan potensi besar di bumi Flobamora. 

Tanah yang tampak keras itu sesungguhnya mampu menyimpan air jika manusia mengelolanya dengan bijaksana. 

Karena itu, perjuangan menjaga air di NTT bukan hanya persoalan teknis pertanian atau pembangunan semata. 

Ia adalah persoalan iman, tanggung jawab moral, sekaligus panggilan sejarah bagi masyarakat yang hidup di tanah ini.

Liturgi Hijau: Iman yang Memulihkan Ciptaan

Dalam berbagai arah pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Ketua Majelis Sinode GMIT Pendeta Samuel Pandie sering mengingatkan bahwa gereja tidak boleh hanya hidup di dalam pagar gedung ibadah. 

Iman Kristen tidak boleh berhenti pada keselamatan jiwa semata, sementara tubuh jemaat bergumul dengan kemiskinan dan alam ciptaan terus mengalami kerusakan.

Karena itu, gerakan menanam pohon sesungguhnya bukan sekadar kegiatan penghijauan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved