Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Kecerdasan Ekologis Pertanian

Resistensi hama bukan sekadar persoalan teknis. Resistensi hama merupakan konsekuensi ekologis. Tekanan kimia terus-menerus memicu adaptasi alam. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pertanian modern berada pada titik perubahan. Produksi pangan meningkat, tetapi ketergantungan pada pestisida sintetis juga semakin tinggi. 

Paradoks ini melahirkan masalah baru. Hama dan penyakit tidak berkurang secara permanen, justru semakin resisten, sementara biaya pengendalian naik dari musim ke musim.

Resistensi hama bukan sekadar persoalan teknis. Resistensi hama merupakan konsekuensi ekologis. Tekanan kimia terus-menerus memicu adaptasi alam. 

Hama berevolusi lebih cepat daripada lahirnya bahan aktif baru. Setiap pestisida hanya memberi jeda singkat. Masalah selalu kembali, sering kali lebih berat. Pendekatan berbasis kimia semata tidak mampu memberi solusi jangka panjang.

Pestisida juga jarang bekerja secara selektif. Banyak organisme non-target terdampak, termasuk musuh alami hama. 

Baca juga: Sosok Siti Maria Ito, Guru yang Memegang Prinsip Bekerja sesuai Tupoksi dan Tidak Menipu

Ketika predator dan parasitoid hilang, sistem kehilangan pengendali alaminya. Populasi hama melonjak, lalu kegagalan ini sering disalahartikan sebagai kesalahan petani, bukan kegagalan pendekatan.

Di saat yang sama, residu kimia mencemari tanah, air, dan udara. Risiko kesehatan manusia meningkat, sementara konsumen semakin kritis terhadap keamanan pangan dan keberlanjutan. 

Petani pun terjepit antara tuntutan produksi dan risiko jangka panjang. Kondisi
inilah yang menegaskan perlunya pendekatan baru yang lebih seimbang dan cerdas secara ekologi.

Kecerdasan Ekologis

Kecerdasan ekologis pertanian adalah kemampuan merancang strategi produksi pangan yang selaras dengan hukum alam. 

Pendekatan ini merupakan gabungan ilmu modern dan praktik berbasis ekologi. Kecerdasan ekologis pertanian untuk mengelola hama dan penyakit tanpa merusak sistem pertanian.

Konsep ini menekankan ekosistem sebagai unit utama. Setiap organisme memiliki peran, dari serangga hingga mikroba tanah. 

Pengetahuan tentang interaksi kompleks ini memungkinkan pengambilan keputusan yang presisi. Pertanian bukan lagi sekadar produksi, tetapi pengelolaan ekosistem yang cerdas.

Ilmu berbasis alam tidak menolak teknologi. Bioteknologi memungkinkan seleksi agen hayati unggul, mikrobiologi tanah mendukung kesehatan tanaman, dan pemodelan ekologi memprediksi dinamika populasi hama. Dengan kombinasi ini, pendekatan menjadi adaptif, bukan reaktif terhadap masalah.

Mengadopsi kecerdasan ekologis bukan kemunduran. Justru ini evolusi ilmu pertanian yang lebih matang. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved