Opini
Opini: Menggali Kearifan Lokal Lonto Leok di Manggarai
Lonto Leok memberikan pelajaran berharga mengenai demokrasi partisipatif dan penyelesaian konflik yang berbasis pada mufakat.
Oleh: Febri M Angsemin
Mahasiswa Prodi Teologi di IFTK Ledalero,Tinggal di Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere - NTT
POS-KUPANG.COM - Dalam konteks budaya Manggarai, tradisi Lonto Leok, yang berarti duduk bersama, lebih dari sekadar sebuah cara pengambilan keputusan; ia berfungsi sebagai platform untuk menjaga keharmonisan masyarakat.
Tradisi ini menciptakan forum dialog terbuka yang mengundang semua pihak untuk berpartisipasi, menunjukkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kebudayaan Manggarai.
Dalam perspektif yang lebih luas, Lonto Leok memberikan pelajaran berharga mengenai demokrasi partisipatif dan penyelesaian konflik yang berbasis pada mufakat.
Namun, menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut adalah relevansi tradisi ini dalam konteks teologi inkulturasi dan peran Gereja di masyarakat lokal.
Sarana Dialog dan Demokrasi Partisipatif
Sebagaimana dijelaskan dalam dokumen Konsili Vatikan II, khususnya dalam Gaudium et Spes, inkulturasi menuntut adanya integrasi nilai-nilai budaya setempat dengan ajaran Gereja (Konsili Vatikan II, 1965).
Lonto Leok berfungsi sebagai jembatan antara prinsip-prinsip iman Kristen dan realitas sosial budaya Manggarai.
Gereja, yang diharapkan menjadi terang dan garam bagi dunia, menemukan dalam Lonto Leok sarana yang relevan untuk memperkuat partisipasi umat dalam kehidupan sosial, politik, dan spiritual.
Salah satu keunggulan utama Lonto Leok adalah kemampuannya menyerap partisipasi dari seluruh anggota masyarakat. Semua orang, tanpa memandang gender atau usia, memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam diskusi.
Ini mencerminkan esensi demokrasi sejati, di mana keputusan diambil melalui dialog terbuka yang menghargai setiap suara.
Prinsip ini sangat selaras dengan ajaran sosial Gereja yang menekankan pada subsidiaritas dan kolegialitas, di mana keputusan diambil sedekat mungkin dengan mereka yang terdampak (Benediktus XVI, Caritas in Veritate, 2009).
Tradisi Lonto Leok
Lonto Leok sebagai mekanisme pengambilan keputusan menampilkan demokrasi partisipatif berbasis komunitas. Sebagai forum deliberatif, tradisi ini memfasilitasi musyawarah di mana anggota masyarakat aktif berkontribusi dalam menentukan kebijakan dan penyelesaian konflik.
Keunikan Lonto Leok terletak pada sifat inklusifnya, di mana setiap anggota masyarakat memiliki hak untuk menyuarakan pandangan mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Angsemin-Febri.jpg)