Opini
Opini: Nyepi, Stoikisme, dan Jalan Kebajikan
Dalam filsafat Hindu, gagasan itu dekat dengan dharma, yaitu prinsip yang menjaga keteraturan diri, masyarakat, dan semesta.
Oleh: I Putu Yoga Bumi Pradana
Wakil Sekretaris Parisadha Hindu Dharma Indonesia Provinsi NTT, Demisioner Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Provinsi NTT 2013-2019, Demisioner Ketua Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Provinsi NTT 2010-2012.
POS-KUPANG.COM - Hari Raya Nyepi pada Kamis, 19 Maret 2026, tidak semestinya dibaca hanya sebagai perayaan keagamaan internal umat Hindu.
Di Nusa Tenggara Timur, Nyepi justru dapat dibaca sebagai momen refleksi publik tentang bagaimana manusia, masyarakat, dan pemerintah belajar hidup dengan lebih tertib, lebih berimbang, dan lebih bertanggung jawab.
Relevansi itu bukan dibuat-buat. NTT memang mencatat pertumbuhan ekonomi 5,34 persen pada triwulan IV 2025, tetapi pada September 2025 angka kemiskinan masih 17,50 persen.
Baca juga: Total 7 Hari, Pemerintah Resmi Tetapkan Libur Panjang Maret 2026, Tanggal Merah Nyepi hingga Lebaran
Pada saat yang sama, NTT juga masih menghadapi persoalan serius stunting; data SSGI 2024 yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan menempatkan NTT sebagai provinsi dengan prevalensi tertinggi, yakni 37 persen.
Artinya, pertumbuhan belum otomatis berarti kualitas hidup yang kokoh.
Di titik inilah Nyepi menjadi penting, bahkan bagi pembaca yang bukan Hindu. Pesan terdalam Nyepi bukan semata “diam”, melainkan menertibkan hidup.
Dalam filsafat Hindu, gagasan itu dekat dengan dharma, yaitu prinsip yang menjaga keteraturan diri, masyarakat, dan semesta.
Dharma bukan sekadar kewajiban ritual. Ia adalah ukuran moral tentang bagaimana manusia hidup secara patut, tahu batas, dan tidak diperbudak oleh nafsu.
Nyepi mengajarkan bahwa manusia perlu berhenti sejenak bukan untuk lari dari dunia, tetapi untuk menilai apakah hidupnya masih berada di jalur yang benar.
Dharma dan Stoikisme
Di sinilah jembatan dengan stoikisme menjadi menarik. Belakangan, stoikisme digemari banyak pembaca umum karena menawarkan cara menghadapi dunia yang kacau tanpa kehilangan kewarasan.
Dari Epictetus sampai Marcus Aurelius, para stoik menekankan satu hal pokok: manusia harus membedakan apa yang berada dalam kendalinya dan apa yang tidak.
Kebebasan tidak datang dari menguasai dunia, tetapi dari menguasai respons diri sendiri terhadap dunia.
Gagasan itu sangat dekat dengan ajaran Hindu, terutama dalam Bhagavad Gita. Krishna tidak mengajarkan Arjuna untuk lari dari tanggung jawab, melainkan menjalankan kewajiban dengan kejernihan, tanpa diperbudak oleh keterikatan pada hasil.
Ini yang dikenal sebagai Karma Yoga, yakni bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak tenggelam dalam nafsu atas buah kerja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/I-Putu-Yoga-Bumi-Pradana-01.jpg)