Opini
Opini: Prapaskah, Kemanusiaan dan Ekologi Integral
Namun luka dan krisis itu kemudian dipulihkan dengan puasa - yang merupakan pilar kedua prapaskah.
Sebaliknya, yang lain adalah Allah yang terlihat. Karena itu, sikap yang pantas dan benar terhadap mereka adalah kasih dan persaudaraan. Inilah relevansi doa pada masa tobat ini. Ia melampaui kepentingan personal.
Puasa: Membatasi Keserakahan yang Merusak
Krisis ekologi dan kemanusiaan yang mengemuka hari-hari ini juga sebenarnya berakar pada keserakahan tanpa batas.
Pengejaran pertumbuhan ekonomi yang tak henti-hentinya telah melampaui batas daya dukung bumi, sehingga mengakibatkan kerusakan habitat yang massif dan perubahan iklim yang ekstrem.
Pada saat yang sama, ketimpangan sosial semakin lebar karena sumber daya yang seharusnya menjadi milik bersama justru dikuasai oleh segelintir pihak, meninggalkan kelompok rentan dalam kemiskinan dan ketidakpastian hidup. Dan karena itulah, timbul luka dan krisis.
Namun luka dan krisis itu kemudian dipulihkan dengan puasa - yang merupakan pilar kedua prapaskah.
Kalau doa mengubah cara pandang kita terhadap dunia, maka puasa merubah cara kita hidup atau berada.
Namun puasa, dalam konteks ini, lebih dari sekadar menahan diri untuk tidak makan.
Sebaliknya puasa lebih berarti berhenti menjadi predator bagi sesama dan alam ciptaan.
Ini mutlak, karena bagaimanapun, keluhuran martabat manusia dan keutuhan ciptaan selalu menjadi prioritas utama bukan hanya dalam konteks hidup beriman tetapi juga dalam konteks kehidupan yang lebih luas.
Derma: Mendistribusikan Keadilan
Setali tiga uang dengan hal-hal yang telah disinggung pada bagian awal, bahwa krisis kemanusiaan dan ekologi yang mencuat hari-hari ini juga sebenarnya disebabkan oleh akumulasi kekayaan yang tidak merata.
Ketimpangan ini telah menciptakan jurang yang lebar di mana segelintir pihak menguasai sumber daya secara berlebihan, sementara mayoritas populasi dipaksa bertahan hidup di tengah sisi-sisa ekosistem yang kian rapuh.
Kondisi inilah yang kemudian menciptakan luka sosial dan ekologi. Namun di tengah kondisi itu, derma - yang menjadi pilar ketiga prapaskah, memainkan perannya yang signifikan.
Akan tetapi derma yang dimaksudkan di sini lebih dari sekadar memberi - apalagi sesuatu yang diberikan itu adalah “recehan” atau “sisa” dari sesuatu yang mungkin tidak layak untuk diberi atau juga mungkin sesuatu yang sebenarnya dimiliki oleh orang lain tetapi hanya karena dibungkus dengan slogan “bonus.”
Karena itu, derma yang dimaksud lebih berarti: pertama, mendistribusikan sumber-sumber daya secara merata.
Ini berarti akses terhadap sumber daya seperti tanah, air, modal, pendidikan dan kesehatan tidak menumpuk di kelompok-kelompok tertentu. Neracanya harus seimbang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yantho-Bambang.jpg)