Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Opini: Antara Jokowi dan KDM

Kini muncul sosok Dedi Mulyadi atau KDM, Gubernur Jawa Barat, yang juga sangat populer di media sosial. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROBERT BALA
Robert Bala 

Oleh: Robert Bala
Penulis buku CREATIVE TEACHING,  Mengajar Mengikuti Kemauan Otak, Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia, Cetakan keeempat.

POS-KUPANG.COM - Kehadiran pemimpin yang populer di media sosial sering menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. 

Banyak orang masih mengingat pengalaman kepemimpinan Joko Widodo—atau Jokowi—yang dikenal luas melalui gaya blusukan dan citra merakyat. 

Sebagai seorang pemimpin bangsa populer yang telah mematerikan ‘wajah’ Indonesia dalam 10 tahun kepemimpinan, tentu kita harus apresiasi. 

Tetapi kita juga tidak melarang kalau ada penilaian tentang sisi kontroversialnya. 

Kini muncul sosok Dedi Mulyadi atau KDM, Gubernur Jawa Barat, yang juga sangat populer di media sosial. 

Baca juga: Opini: Helicopter View atas Polemik Pernyataan Gubernur NTT- Transparansi atau Ancaman?

Sebagian pihak bertanya: apakah fenomena KDM akan mengulang pola yang sama seperti Jokowi—populer secara citra, tetapi tidak selalu sejalan dengan realitas kebijakan? 

Bertanya demikian tentu tidak berusaha menilai negatif Jokowi. Sebagai seorang pemimpin tentu ia tidak bebas dari hal positif dan negatif. 

Tetapi dengan perbandingan itu, kalau pun KDM memiliki gaya yang populis sama dengan Jokowi, tetapi hal baik bisa dilanjutkan sambil hal yang kontroversial bisa dikontrol atau kalau boleh diperbaiki. 

Kesadaran ini penting untuk menilai lebih dalam. Hal ini bisa menjadi alasan untuk menilai perbedaan keduanya baik dari latar belakang politik, kedalaman pengalaman pemerintahan, maupun cara memahami masyarakat dan budaya lokal.

Pertama, labar belakang politik. Jokowi dikenal sebagai sosok yang muncul dari luar elite politik nasional. 

Ia memulai karier sebagai pengusaha mebel sebelum masuk ke dunia politik dan menjadi Wali Kota Surakarta pada 2005. 

Popularitasnya meningkat karena gaya kepemimpinan yang sederhana dan pendekatan langsung ke masyarakat melalui blusukan. 

Kariernya kemudian melesat menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2012, dan akhirnya Presiden RI pada 2014. 

Sementara itu, KDM memiliki perjalanan politik yang jauh lebih panjang di tingkat lokal sebelum menjadi tokoh nasional. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved