Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Opini: Sorgum Manis

Diversifikasi komoditas menjadi kunci untuk memperkuat resiliensi. Ketergantungan pada satu atau dua komoditas utama menciptakan risiko

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Sorgum manis (Sorghum bicolor) mengemuka kembali dalam diskursus pembangunan ketika Indonesia menghadapi tekanan ganda: ketahanan pangan yang belum kokoh dan transisi energi yang semakin mendesak. 

Ketergantungan pada impor gula, volatilitas harga energi fosil, serta keterbatasan ekspansi sawah memperlihatkan bahwa sistem produksi nasional masih rentan terhadap guncangan eksternal.

Perubahan iklim memperparah tantangan tersebut. Variabilitas curah hujan dan peningkatan suhu menuntut sistem pertanian yang lebih adaptif dan efisien dalam penggunaan air. 

Baca juga: Pemkab Rote Ndao Genjot Pengembangan Sorgum

Dalam konteks ini, lahan kering tidak lagi dapat diposisikan sebagai wilayah marjinal, melainkan sebagai ruang strategis yang harus dioptimalkan.

Diversifikasi komoditas menjadi kunci untuk memperkuat resiliensi. Ketergantungan pada satu atau dua komoditas utama menciptakan risiko struktural. 

Perayaan panen di salah satu kebun menandai keberhasilan ini. Kelompok Tani Sorgum Ile Nogo Desa Wuakerong Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata kembali membuktikan mereka tidak salah memilih sorgum.
 Anggota Kelompok Tani Sorgum Ile Nogo Desa Wuakerong Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata memanen sorgum beberapa waktu lalu. (POS-KUPANG.COM/HO-YASPENSEL)

Tanaman yang mampu tumbuh pada kondisi cekaman sekaligus memiliki fungsi multiperan menjadi semakin relevan dalam desain kebijakan jangka panjang.

Sorgum manis menawarkan kombinasi tersebut. Batangnya menghasilkan nira untuk gula cair dan bioetanol, sementara bijinya dapat dimanfaatkan sebagai pangan maupun pakan. 

Karakter ini memungkinkan integrasi sektor pangan dan energi dalam satu sistem produksi yang efisien.

Namun, potensi agronomis saja tidak cukup. Tanaman ini perlu ditempatkan dalam kerangka industrialisasi dan tata kelola yang terintegrasi. 

Tanpa arah kebijakan yang jelas, setiap inovasi cenderung terfragmentasi dan gagal mencapai implementasi skala besar. Akibatnya, banyak ide yang berhenti pada tahap percontohan, hanya menjadi wacana atau simbol idealisme tanpa dampak nyata bagi pembangunan. 

Karena itu, pembahasan mengenai sorgum manis harus melampaui romantisme komoditas alternatif. Ia perlu dipandang sebagai elemen strategis dalam arsitektur ekonomi hijau nasional berbasis optimalisasi lahan kering.

Fondasi Biologis dan Keunggulan Adaptif

Sebagai tanaman dengan mekanisme fotosintesis C4, sorgum manis memiliki efisiensi tinggi dalam menyerap cahaya dan memanfaatkan air secara optimal. 

Keunggulan fisiologis ini membuatnya mampu tumbuh subur pada suhu tinggi dan kondisi kering, yang kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. 

Adaptabilitas ini memungkinkan sorgum manis tetap produktif di lahan marginal yang kurang ideal untuk tanaman lain. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved