Opini
Opini: Tuhan Saja Dijual dengan 30 Keping Perak
Setiap tindakan korupsi, setiap perdagangan manusia, setiap suap, selalu meninggalkan jejak penderitaan panjang dan memilukan.
Dana yang dikorupsi selalu berarti sekolah yang tak dibangun, obat-obatan yang tak tersedia, jalan-jalan dan infrastruktur yang tak dibangun atau tak diperbaiki. Yang dirugikan pun selalu mereka yang paling lemah.
Dalam terang ini, Yudas Iskariot dapat dibaca sebagai simbol mentalitas koruptif, yakni bahwa nurani itu lama-kelamaan tumpul oleh kompromi kecil, hingga akhirnya mampu menjual yang paling suci sekalipun.
Tiga puluh keping perak menjadi lambang betapa murahnya nurani tatkala nafsu akan uang menguasai hati manusia.
Prapaskah sebagai Kritik Budaya
NTT dikenal sebagai wilayah religius dengan tradisi adatnya yang kuat. Dalam tradisi budaya lokal Flobamorata, martabat itu selalu melekat pada komunitas.
Rasa malu merupakan konsekuensi sosial. Namun modernitas dan ekonomi pasar perlahan telah menggeser orientasi itu.
Filsuf sosial Karl Polanyi mengingatkan bahwa ketika ekonomi pasar menjadi prinsip dominan, relasi sosial pun disubordinasikan pada logika pasar belaka. Manusia tidak lagi menjadi tujuan, melainkan sekadar sarana.
Dalam konteks ini, Prapaskah tidak boleh berhenti pada ritual devosional. Ia harus menjadi momen kritik terhadap budaya serakah. Puasa bukan sekedar menahan lapar, tetapi menahan diri dari kerakusan.
Pantang bukan sekadar soal makanan, tetapi soal menghindari mentalitas ingin mengambil bagian lebih dari yang seharusnya.
Bertobat atau metanoia bukan hanya mengakui dosa pribadi, melainkan berani memerangi budaya korupsi dalam diri dan dalam sistem.
Sebab jika Tuhan saja dijual dengan tiga puluh keping perak, pertanyaannya menjadi sangat konkret: berapa harga martabat manusia hari ini? Berapakah harga kejujuran? Berapakah harga nurani?
Kisah Injil mencatat bahwa uang itu konon dikembalikan oleh Yudas Iskariot. Suatu penyesalan yang datang terlambat. Namun luka yang ditinggalkan tidak hilang begitu saja.
Setiap tindakan korupsi, setiap perdagangan manusia, setiap suap, selalu meninggalkan jejak penderitaan panjang dan memilukan.
Indonesia, khususnya NTT, membutuhkan lebih dari pembangunan fisik. Kita membutuhkan revolusi moral, pembaruan hati yang berani berkata tidak pada keserakahan.
Di tanah yang menyebut dirinya ber-Tuhan, kita harus berani menegaskan, bahwa martabat manusia itu tidak untuk dijual.
Tuhan memang pernah dihargai tiga puluh keping perak, namun kiranya Ia tidak lagi dijual terus-menerus melalui hasrat dan mental korupsi serta kerakusan kita hari ini. Meski dalam wajah yang berbeda. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Vincent-Adi-G-Meka.jpg)