Opini
Opini: Tuhan Saja Dijual dengan 30 Keping Perak
Setiap tindakan korupsi, setiap perdagangan manusia, setiap suap, selalu meninggalkan jejak penderitaan panjang dan memilukan.
Oleh: Vincent Adi G. Meka
Budayawan, dosen Antropologi Agama di KHKT Jerman.
POS-KUPANG.COM - Umat Kristen telah memasuki Masa Prapaskah. Dalam perjalanan 40 hari menuju Paskah, kita kembali merenungkan kisah sengsara Tuhan.
Di jantung kisah itu berdiri satu peristiwa sunyi namun mengguncangkan: Tuhan dijual dengan tiga puluh keping perak oleh murid-Nya sendiri, Yudas Iskariot.
Angka itu bukan sekadar detail naratif. Secara historis, tiga puluh keping perak merujuk pada harga seorang budak (bdk. Keluaran 21:32).
Artinya, sejak awal, pengkhianatan Yudas bukan hanya soal relasi retak, melainkan tindakan yang mereduksi pribadi menjadi komoditas. Ia bukan sekadar lemah, ia dikuasai kerakusan.
Baca juga: Opini: Mengapa Meminta Maaf?
Injil Yohanes bahkan mencatat bahwa Yudas memegang kas para murid dan kerap salah menggunakan uang.
Ada pola kecil yang dibiarkan terus-menerus, dan akhirnya menjelma menjadi suatu pengkhianatan besar.
Di sini kita melihat wajah keserakahan yang klasik, yakni keinginan memiliki lebih, meski harus mengorbankan kebenaran dan relasi.
Tuhan yang diimani sebagai Sabda yang menjadi manusia diturunkan nilainya setara harga pasar.
Tatkala hati dikuasai oleh cinta uang, yang ilahi pun bisa diperdagangkan.
Antropolog Prancis Marcel Mauss dalam The Gift menjelaskan bahwa banyak masyarakat tradisional melihat pertukaran sebagai yang selalu berdimensi moral, yakni ada kewajiban memberi, menerima, dan membalas yang atau demi menjaga martabat relasi.
Krisis akan muncul ketika pertukaran kehilangan roh moralnya dan berubah menjadi transaksi lesu. Relasi berubah menjadi kalkulasi belaka.
Dalam terang itu, tindakan Yudas bukan sekadar kelemahan individu, tetapi simbol kesetiaan yang dikalahkan oleh nilai tukar dan nafsu akan uang.
Sosiolog Jerman Max Weber menyebut gejala ini sebagai rasionalitas instrumental, di mana tindakan tidak lagi dituntun oleh nilai, melainkan oleh tujuan pragmatis.
Segala sesuatu pun diukur berdasarkan manfaat. Bahkan kebenaran dan iman pun dapat dinegosiasikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Vincent-Adi-G-Meka.jpg)