Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Tuhan Saja Dijual dengan 30 Keping Perak

Setiap tindakan korupsi, setiap perdagangan manusia, setiap suap, selalu meninggalkan jejak penderitaan panjang dan memilukan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI VINCENT ADI G. MEKA
Vincent Adi G. Meka 

Oleh: Vincent Adi G. Meka
Budayawan, dosen Antropologi Agama di KHKT Jerman.

POS-KUPANG.COM - Umat Kristen telah memasuki Masa Prapaskah. Dalam perjalanan 40 hari menuju Paskah, kita kembali merenungkan kisah sengsara Tuhan. 

Di jantung kisah itu berdiri satu peristiwa sunyi namun mengguncangkan: Tuhan dijual dengan tiga puluh keping perak oleh murid-Nya sendiri, Yudas Iskariot.

Angka itu bukan sekadar detail naratif. Secara historis, tiga puluh keping perak merujuk pada harga seorang budak (bdk. Keluaran 21:32). 

Artinya, sejak awal, pengkhianatan Yudas bukan hanya soal relasi retak, melainkan tindakan yang mereduksi pribadi menjadi komoditas. Ia bukan sekadar lemah, ia dikuasai kerakusan. 

Baca juga: Opini: Mengapa Meminta Maaf?

Injil Yohanes bahkan mencatat bahwa Yudas memegang kas para murid dan kerap salah menggunakan uang. 

Ada pola kecil yang dibiarkan terus-menerus, dan akhirnya menjelma menjadi suatu pengkhianatan besar.

Di sini kita melihat wajah keserakahan yang klasik, yakni keinginan memiliki lebih, meski harus mengorbankan kebenaran dan relasi. 

Tuhan yang diimani sebagai Sabda yang menjadi manusia diturunkan nilainya setara harga pasar. 

Tatkala hati dikuasai oleh cinta uang, yang ilahi pun bisa diperdagangkan.

Antropolog Prancis Marcel Mauss dalam The Gift menjelaskan bahwa banyak masyarakat tradisional melihat pertukaran sebagai yang selalu berdimensi moral, yakni ada kewajiban memberi, menerima, dan membalas yang atau demi menjaga martabat relasi. 

Krisis akan muncul ketika pertukaran kehilangan roh moralnya dan berubah menjadi transaksi lesu. Relasi berubah menjadi kalkulasi belaka. 

Dalam terang itu, tindakan Yudas bukan sekadar kelemahan individu, tetapi simbol kesetiaan yang dikalahkan oleh nilai tukar dan nafsu akan uang. 

Sosiolog Jerman Max Weber menyebut gejala ini sebagai rasionalitas instrumental, di mana tindakan tidak lagi dituntun oleh nilai, melainkan oleh tujuan pragmatis. 

Segala sesuatu pun diukur berdasarkan manfaat. Bahkan kebenaran dan iman pun dapat dinegosiasikan. 

Jika Tuhan saja dihargai dengan tiga puluh keping perak, apa lagi yang tidak bisa diperjualbelikan di atas bumi ini?

Gema Tiga Puluh Keping Perak Hari Ini

Pertanyaan di atas menjadi semakin tajam ketika kita memandang konteks Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur ( NTT). Provinsi ini kerap tercantum dalam laporan-laporan tentang perdagangan orang. 

Anak-anak muda, khususnya wanita-wanita muda direkrut dengan janji pekerjaan layak, tetapi berakhir dalam eksploitasi. 

Ada yang lalu pulang membawa trauma, ada pula yang kembali dalam peti jenazah. Bahkan kini terungkap pula perdagangan gadis-gadis bawah umur dari luar daerah ke NTT.

Di balik setiap kisah selalu ada angka: biaya perekrutan, komisi, potongan gaji, utang. 

Banyak pekerja berangkat karena dililit utang atau justru terjerat oleh utang baru. 

Antropolog Amerika David Graeber melihat sejarah utang sebagai sejarah relasi kuasa. 

Utang bukanlah sekadar kewajiban ekonomi, melainkan alat untuk mengikat, menundukkan, bahkan menindas. Hidup manusia pun “ditaksir” dan digadaikan dalam sistem yang bobrok dan menjerat.

Namun kerakusan tidak hanya berhenti pada perdagangan orang, tetapi merayap ke dalam praktik korupsi yang marak di Indonesia, termasuk di NTT. 

Anggaran publik yang seharusnya untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat, dipotong demi kepentingan pribadi atau partai. 

Banyak proyek dimark-up. Bantuan sosial juga disunat. Jabatan dipakai sebagai ladang keuntungan pribadi.

Korupsi pada hakikatnya merupakan bentuk modern dari tiga puluh keping perak. Ia lahir dari keserakahan yang sama, yakni hasrat memiliki lebih dengan mengorbankan orang lain. 

Yudas menjual Gurunya demi uang, para koruptor menjual kepercayaan publik demi kekayaan. Yudas mengkhianati relasi suci, penjahat korupsi mengkhianati mandat rakyat.

Sosiolog Norwegia J. Galtung menyebut situasi ini sebagai kekerasan structural, di mana sistem sosial membuat orang rentan dan menderita tanpa pelaku kekerasan yang terlihat. 

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, ia adalah kekerasan terhadap kaum miskin. 

Dana yang dikorupsi selalu berarti sekolah yang tak dibangun, obat-obatan yang tak tersedia, jalan-jalan dan infrastruktur yang tak dibangun atau tak diperbaiki. Yang dirugikan pun selalu mereka yang paling lemah.

Dalam terang ini, Yudas Iskariot dapat dibaca sebagai simbol mentalitas koruptif, yakni bahwa nurani itu lama-kelamaan tumpul oleh kompromi kecil, hingga akhirnya mampu menjual yang paling suci sekalipun. 

Tiga puluh keping perak menjadi lambang betapa murahnya nurani tatkala nafsu akan uang menguasai hati manusia.

Prapaskah sebagai Kritik Budaya

NTT dikenal sebagai wilayah religius dengan tradisi adatnya yang kuat. Dalam tradisi budaya lokal Flobamorata, martabat itu selalu melekat pada komunitas. 

Rasa malu merupakan konsekuensi sosial. Namun modernitas dan ekonomi pasar perlahan telah menggeser orientasi itu. 

Filsuf sosial Karl Polanyi mengingatkan bahwa ketika ekonomi pasar menjadi prinsip dominan, relasi sosial pun disubordinasikan pada logika pasar belaka. Manusia tidak lagi menjadi tujuan, melainkan sekadar sarana.

Dalam konteks ini, Prapaskah tidak boleh berhenti pada ritual devosional. Ia harus menjadi momen kritik terhadap budaya serakah. Puasa bukan sekedar menahan lapar, tetapi menahan diri dari kerakusan. 

Pantang bukan sekadar soal makanan, tetapi soal menghindari mentalitas ingin mengambil bagian lebih dari yang seharusnya. 

Bertobat atau metanoia bukan hanya mengakui dosa pribadi, melainkan berani memerangi budaya korupsi dalam diri dan dalam sistem. 

Sebab jika Tuhan saja dijual dengan tiga puluh keping perak, pertanyaannya menjadi sangat konkret: berapa harga martabat manusia hari ini? Berapakah harga kejujuran? Berapakah harga nurani?

Kisah Injil mencatat bahwa uang itu konon dikembalikan oleh Yudas Iskariot. Suatu  penyesalan yang datang terlambat. Namun luka yang ditinggalkan tidak hilang begitu saja. 

Setiap tindakan korupsi, setiap perdagangan manusia, setiap suap, selalu meninggalkan jejak penderitaan panjang dan memilukan.

Indonesia, khususnya NTT, membutuhkan lebih dari pembangunan fisik. Kita membutuhkan revolusi moral, pembaruan hati yang berani berkata tidak pada keserakahan. 

Di tanah yang menyebut dirinya ber-Tuhan, kita harus berani menegaskan, bahwa martabat manusia itu tidak untuk dijual. 

Tuhan memang pernah dihargai tiga puluh keping perak, namun kiranya Ia tidak lagi dijual terus-menerus melalui hasrat dan mental korupsi serta kerakusan kita hari ini. Meski dalam wajah yang berbeda. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved