Kamis, 16 April 2026

Opini

Opini: Makna Prapaskah bagi Nusa Tenggara Timur

Prapaskah datang sebagai kritik rohani: jangan sampai iman hanya menjadi dekorasi moral tanpa daya ubah.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Pada akhirnya, inti Prapaskah adalah pertobatan. Namun pertobatan tidak boleh direduksi menjadi urusan privat antara individu dan Tuhan. 

Dalam konteks NTT, pertobatan harus berdimensi sosial: menyentuh struktur, budaya, dan kebiasaan kolektif.

Pertobatan sosial berarti berani mengakui kesalahan bersama: budaya diam terhadap ketidakadilan, toleransi terhadap korupsi kecil, atau sikap pasrah yang berlebihan. Mengakui bukan untuk merendahkan diri, tetapi untuk membuka jalan perubahan.

Agustinus dari Hippo pernah berkata bahwa hati manusia gelisah sampai ia beristirahat dalam kebenaran. 

Kegelisahan NTT hari ini: kemiskinan, migrasi, ketimpangan, bisa dibaca sebagai tanda bahwa ada yang belum selaras. 

Kompas batin perlu dikalibrasi ulang agar menunjuk pada keadilan dan martabat manusia.

Pertobatan sosial juga menuntut kepemimpinan yang visioner. Pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi berintegritas. 

Pemimpin yang melihat jabatan sebagai pelayanan. Tanpa kepemimpinan yang berani, perubahan akan terhambat oleh kepentingan jangka pendek.

Namun tanggung jawab tidak hanya di pundak pemimpin. Setiap warga memiliki peran. Dari keluarga, sekolah, Gereja, hingga ruang publik, budaya kejujuran dan tanggung jawab harus ditanamkan. 

Prapaskah menjadi laboratorium kecil untuk melatih kebiasaan baru yang lebih sehat.

Menata kompas batin di Timur Indonesia bukan proyek instan. Ia adalah proses panjang yang menuntut kesetiaan. 

Tetapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari keputusan kecil yang konsisten. Prapaskah memberi kita waktu untuk memulai kembali.

Jika hati-hati di NTT sungguh dibaharui, maka arah pembangunan akan lebih jelas. 

Iman tidak lagi berhenti di altar, tetapi menjelma dalam kebijakan yang adil, ekonomi yang inklusif, dan relasi sosial yang manusiawi. 

Dan dari Timur Indonesia, mungkin lahir kesaksian bahwa pembaruan sejati selalu dimulai dari hati yang berani bertobat. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved