Kamis, 7 Mei 2026

Opini

Opini: Makna Prapaskah bagi Nusa Tenggara Timur

Prapaskah datang sebagai kritik rohani: jangan sampai iman hanya menjadi dekorasi moral tanpa daya ubah.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa IFTK Ledalero, Maumere - Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Di Nusa Tenggara Timur, iman bukan sekadar urusan privat. Ia hadir dalam ritus, budaya, simbol, dan kebersamaan. 

Gereja-gereja penuh pada hari Minggu, kapela-kapela berdiri bahkan di kampung terpencil, dan tradisi seperti Semana Santa di Larantuka menjadi kebanggaan rohani sekaligus identitas kultural. 

Namun justru di tengah religiositas yang kuat itu, pertanyaan mendasar muncul: apakah iman kita sudah menjadi kompas, atau hanya menjadi atribut?

Kita menyaksikan ironi. Di satu sisi, NTT dikenal sebagai daerah dengan kehidupan religius yang hidup. 

Baca juga: Opini: Perdamaian, Keadilan, dan Krisis Kebenaran di Era Digital

Di sisi lain, ia masih berkutat dengan kemiskinan struktural, persoalan stunting, akses pendidikan yang timpang, serta migrasi tenaga kerja yang sering berujung pada eksploitasi. 

Realitas ini bukan untuk menyalahkan iman, melainkan untuk menguji kedalamannya. 

Sebab iman yang sejati, sebagaimana diingatkan oleh Søren Kierkegaard, bukanlah keramaian massa, melainkan keputusan personal yang radikal dan bertanggung jawab.

Sering kali religiositas kita berhenti pada perayaan. Liturgi dijalankan dengan tertib, prosesi berlangsung khidmat, tetapi setelah itu kehidupan sosial berjalan seperti biasa. 

Korupsi kecil dianggap wajar. Nepotisme dipahami sebagai “membantu keluarga.” Ketidakadilan diterima sebagai nasib. 

Dalam situasi ini, Prapaskah datang sebagai kritik rohani: jangan sampai iman hanya menjadi dekorasi moral tanpa daya ubah.

Hannah Arendt pernah berbicara tentang “banalitas kejahatan”, bagaimana kejahatan bisa menjadi biasa karena dilakukan tanpa refleksi. 

Di NTT, bahaya terbesar mungkin bukan kejahatan besar yang dramatis, tetapi kebiasaan membiarkan hal-hal kecil yang salah terus berlangsung. 

Ketika ketidakadilan dianggap normal, hati perlahan kehilangan kepekaan. Kompas batin mulai goyah.

Karena itu, Prapaskah harus dibaca sebagai momen evaluasi kolektif. Bukan hanya “apakah saya rajin berdoa?”, tetapi “apakah doa saya memengaruhi cara saya bekerja, memimpin, dan memperlakukan orang lain?” 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved