Opini
Opini: Tikus di Rumah Suci dan Cermin Kehidupan Kita
Tempat suci dibangun oleh manusia, dikelola oleh manusia, dan dihuni oleh manusia yang tetap membawa kelemahan serta godaan duniawi.
Cerita tentang tikus di rumah suci akhirnya mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: kejahatan tidak selalu datang dari luar, tetapi sering muncul dari kelalaian di dalam.
Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya pengawasan struktural, tetapi juga pembaruan moral - dimulai dari individu, komunitas, hingga lembaga negara.
Rumah Tuhan, seperti juga rumah bangsa, hanya akan tetap kokoh jika setiap penghuninya menjaga integritas.
Sebab pada akhirnya, kesucian bukan ditentukan oleh bangunan atau simbol, melainkan oleh hati manusia yang memilih untuk jujur, adil, dan bertanggung jawab.
Dan, mungkin pesan paling penting dari kisah itu adalah ini: sebelum mencari tikus di luar, kita perlu memastikan tidak ada tikus yang diam-diam kita pelihara dalam diri kita sendiri. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dr-karolus-kopong-medan.jpg)