Opini
Opini: Tikus di Rumah Suci dan Cermin Kehidupan Kita
Tempat suci dibangun oleh manusia, dikelola oleh manusia, dan dihuni oleh manusia yang tetap membawa kelemahan serta godaan duniawi.
Oleh: Karolus Kopong Medan
Dosen Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Tulisan opini ini berangkat dari inspirasi buku kumpulan cerpen " Tikus di Rumah Suci" karya Sipri Senda, seorang Pastor Katolik, yang diterbitkan oleh PT Kanisius, Yogyakarta, tahun 2026.
Cerpen dengan judul yang sama menjadi titik tolak refleksi moral dan sosial dalam tulisan ini.
Semua orang pasti terperangah ketika menemukan kabar bahwa ada “tikus” berkeliaran bebas di rumah Tuhan - menggerogoti, mencuri, dan hidup nyaman di ruang yang seharusnya suci.
Kabar semacam itu tentu mengejutkan, bahkan mengusik iman dan akal sehat kita.
Baca juga: Opini: Memaknai Prapaskah di Tengah Dunia VUCA
Apakah mungkin tempat yang diyakini sebagai ruang sakral justru tidak sepenuhnya aman dari perilaku yang merusak?
Tentu, kegelisahan itu lahir lebih dahulu dari imajinasi pembaca, termasuk imajinasi saya, yang melampaui kisah aslinya.
Cerita pendek tersebut sesungguhnya hanya menggambarkan tikus-tikus nyata yang mencuri sisa makanan di dapur pastoran atau berkeliaran di gudang paroki.
Namun justru dari fakta yang sederhana itulah muncul simbol yang jauh lebih dalam, sebuah gambaran yang mengusik kesadaran moral kita.
Tikus dalam imajinasi sosial kita bukan sekadar binatang. Ia sering menjadi metafora bagi perilaku diam-diam, licik, mengambil tanpa hak, dan hidup dari kelengahan orang lain.
Ketika simbol itu ditempatkan di ruang yang disebut “rumah Tuhan”, muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah ruang suci benar-benar bebas dari penyimpangan moral?
Jawabannya, sebagaimana realitas kehidupan manusia, tidak selalu demikian.
Tempat suci dibangun oleh manusia, dikelola oleh manusia, dan dihuni oleh manusia yang tetap membawa kelemahan serta godaan duniawi.
Karena itu, kehadiran “tikus”- baik dalam arti harfiah maupun simbolik - sebenarnya bukan sekadar persoalan kebersihan ruang, tetapi juga kebersihan nurani.
Ia menjadi pengingat bahwa kesucian tempat tidak otomatis menjamin kesucian perilaku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dr-karolus-kopong-medan.jpg)