Opini
Opini: Tikus di Rumah Suci dan Cermin Kehidupan Kita
Tempat suci dibangun oleh manusia, dikelola oleh manusia, dan dihuni oleh manusia yang tetap membawa kelemahan serta godaan duniawi.
Di sinilah cerpen tersebut melampaui dirinya sendiri. Ia menjadi cermin sosial.
Jika di ruang religius saja masih mungkin terjadi tindakan tidak etis, kelalaian, atau bahkan penyalahgunaan kepercayaan, maka bagaimana dengan ruang publik yang jauh lebih kompleks: birokrasi negara, lembaga politik, hingga pemerintahan di tingkat desa dan kelurahan?
Kita hidup di tengah realitas di mana praktik korupsi, manipulasi kekuasaan, dan penyalahgunaan jabatan seolah menjadi berita harian.
Ironisnya, pelaku sering kali bukan orang asing bagi masyarakat, melainkan mereka yang sebelumnya dipercaya, dihormati, bahkan dianggap teladan.
Dalam konteks ini, “tikus” bukan lagi sekadar simbol sastra, tetapi metafora sosial yang terasa nyata.
Korupsi pada dasarnya lahir dari mentalitas mengambil yang bukan haknya. Ia berawal dari pembenaran kecil: mengambil sedikit tidak apa-apa, memanfaatkan jabatan dianggap wajar, atau menganggap fasilitas publik sebagai milik pribadi.
Seperti tikus yang menggigit perlahan, kerusakan itu sering tidak langsung terlihat. Namun lama-kelamaan, fondasi moral masyarakat menjadi rapuh.
Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat mulai terbiasa.
Ketika pelanggaran dianggap normal, ketika integritas dipandang sebagai keluguan, dan ketika kejujuran justru terasa asing.
Pada titik ini, persoalan bukan lagi individu yang menyimpang, melainkan budaya yang ikut membiarkan penyimpangan itu terus hidup.
Gereja maupun negara sebenarnya memiliki panggilan yang sama: menjaga martabat manusia dan memelihara keadilan. Gereja melalui nilai moral dan spiritualitas, negara melalui hukum dan tata kelola pemerintahan.
Namun keduanya akan kehilangan wibawa apabila tidak mampu membersihkan “tikus-tikus” yang menggerogoti dari dalam.
Kritik terhadap realitas ini bukanlah serangan terhadap institusi, melainkan bentuk cinta terhadapnya. Sebab hanya dengan keberanian mengakui kelemahan, pembaruan dapat terjadi.
Kesucian bukan berarti tanpa cela, melainkan keberanian untuk terus bertobat dan memperbaiki diri.
Masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Korupsi dan penyimpangan tidak tumbuh di ruang hampa; ia hidup karena ada toleransi sosial.
Ketika publik diam, ketika kritik dianggap ancaman, atau ketika relasi kedekatan lebih penting daripada keadilan, maka “tikus-tikus” itu akan terus berkembang biak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dr-karolus-kopong-medan.jpg)