Selasa, 5 Mei 2026

Opini

Opini: Adakah Keadilan Dalam Pendidikan?

Pendidikan sangat berorientasi pada nilai ekonomis dan bisnis. Banyak anak usia sekolah tidak dapat mengenyam pendidikan karena alasan ini.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI UMBU TAGELA
Umbu Tagela 

Fenomena empirik ini memaparkan pada kita bahwa konsep pengajaran yang saat ini digandrungi tidak berakar pada belief system masyarakat dan bangsa Indonesia. 

Hal ini kemungkinan disebabkan oleh (1) para konseptor pendidikan mulai dari Pusat (Menteri), hingga  Provinsi, Kabupaten dan Kota, memang bukan orang profesional dalam bidang pendidikan, baik makro maupun mikro. 

Mereka cuma pakar–pakar dari disiplin ilmu tertentu, yang karena pertimbangan tertentu atau pertimbangan politis diangkat pada posisi strategis yang kemudian berperan sebagai konseptor pendidikan. 

(2) para konseptor  pendidikan mungkin saja profesional, tapi karena pertimbangan politis, mereka dengan sadar dan sengaja membelokkan kiprah dan kiblat pendidikan menurut belief system tertentu yang dianutnya atau belief system penguasa dan elit politik.

Selama ini kita berasumsi bahwa belief system pendidikan kita bernuansa paedagogis, karena belief system kita sebagai bangsa memang sangat paedagogis. 

Kita dapat mengamati proses belajar mengajar di kelas, lebih banyak didominasi oleh pengajaran sedangkan aspek pendidikannya sangat minim bahkan cenderung tidak ada. 

Hal inilah yang merupakan salah satu aspek yang meresahkan para pakar pendidikan, masyarakat dan orang tua, dan pada akhirnya berbuntut, munculnya gagasan atau konsep Budi Pekerti ( sekarang disebut pendidikan karakter) untuk dimasukan sebagai bidang studi atau mata pelajaran resmi di sekolah.   

Ketidakadilan  individual juga diakibatkan oleh konsep pendidikan yang tidak konsisten dengan belief system bangsa ini yang dihasilkan oleh para konseptor yang kurang profesional dalam soal perencanaan Pendidikan.

Bisa jadi para konseptor kita profesional tetapi kurang mengenali secara tepat belief system bangsa (mungkin terbius belief system luar negeri  atau belief system penguasa dan elit politik)) menyebabkan konsepsi pendidikan yang dihasilkan tidak membangun manusia yang sesuai dengan citra diri ideal belief system bangsa Indonesia. 

Kalau saja kita mau jujur, kita sedang mengalami kekalutan konseptual dalam dunia pendidikan, karena semua orang  ingin berbicara dalam berbagai fora. Hal ini merupakan kesembronoan yang amat fatal bagi dunia pendidikan kita.

Ketidakadilan Sosial

Ketidakadilan dalam dunia pendidikan dapat terjadi, bilamana kepentingan umum sangat diutamakan dan mengalahkan kepentingan individual. 

Ketidakadilan inipun berakar pada kekeliruan dalam mengartikulasikan konsep diri yang memandang bahwa aspek kebersamaanlah yang penting, karena manusia baru menjadi manusia oleh manusia. 

Kita kadang-kadang lupa bahwa manusia yang memanusiakan manusia hanya membantu aktualisasi diri individu, dimana individu itu sendiri memiliki kreativitas dan mau menjadi dirinya sendiri. 

Ketidakadilan sosial telah memperkosa kenyataan diri individu. Hal ini tampak pada konsep tenaga siap pakai atau siap kerja yang belakangan ini menjadi tren pendidikan kita. 

Ketidakadilan sosial tampak pula pada konsep pendidikan anak terpilih atau unggul, seperti (1) pendidikan bagi golongan atas dalam strata sosial, menyebabkan anak-anak dari golongan atas saja yang memperoleh kesempatan untuk menikmati pendidikan formal. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved