Breaking News
Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Opini: Memaknai Prapaskah di Tengah Dunia VUCA

Paus Fransiskus juga menyerukan persatuan, kasih dan solidaritas sebagai pedoman bagi kita untuk berpijar dan menghadapi VUCA. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI RIKARDO SILA
Rikardo Sila 

Oleh: Rikardo Sila
Mahasiswa Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM -  Dunia kita saat ini ibarat bahtera terancam karam. Perubahan iklim dan krisis lingkungan seperti pemanasan global, kebakaran hutan dan banjir, konflik dan perang, krisis ekonomi global, krisis kemanusiaan dan migrasi, serta revolusi teknologi dan kecerdasan buatan, terus mengguncang kemapanan dan ketenangan hati kita. 

Berbagai gempuran itu tak ayal menciptakan suatu situasi  suram, tidak stabil, kompleks  dan penuh ketidakpastian. 

Kita pun digiring menuju realitas dunia VUCA — Volatility (perubahan cepat), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ketidakjelasan makna). 

Menghadapi tantangan  dunia VUCA, diperlukan kemampuan dan kreativitas untuk mengubah situasi kesulitan menjadi peluang untuk berkembang, dari ketidakpastian menuju kepastian.  

Baca juga: Opini: Menikmati Surga yang Rusak- Wisata Penderitaan di Manggarai Timur

Dalam pidatonya kepada peserta Toniolo Young Professional Association  di Vatikan pada 26 Januari 2024, Paus Fransiskus memperingatkan bahaya “Pensiero breve” ― pola pikir pendek atau dangkal yang lahir dari budaya instan zaman digital. 

Ia mengajak kaum muda untuk tidak terjebak dalam pikiran reaktif melainkan membangun refleksi yang mendalam, berani mengambil risiko, dan tetap memiliki rasa kagum terhadap kehidupan itu sendiri. 

Ia  menegaskan bahwa kaum muda harus berani maju, karena merekalah agen-agen yang mampu menaklukan tantangan zaman.

Paus Fransiskus juga menyerukan persatuan, kasih dan solidaritas sebagai pedoman bagi kita untuk berpijar dan menghadapi dunia VUCA. 

Menurutnya, kita sedang berada di dalam perahu yang sama (Mar.6:45-52); karena itu kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri melainkan berkerja sama untuk menghadapi tantangan ini dan melewatinya secara bersama-sama.  

Ia mengajak kita semua (kaum beriman), saling bekerjasama, saling berpegangan tangan satu sama lain menangani krisis yang sama yang sedang semarak.

Percikan Refleksi dari Momentum Prapaskah

Di tengah hiruk pikuk dunia VUCA hari-hari ini, siklus tahun liturgi membawa kita kembali memasuki masa prapaskah. Masa ini dimulai pada hari Rabu Abu yang pada tahun ini jatuh pada 18 Februari 2026. 

Masa prapaskah merupakan masa puasa dan pantang, dengan kekhasannya dilukiskan dengan situasi berdoa, berpuasa dan berderma. 

Menandai dahi dengan abu pada hari ‘Rabu Abu’ melambangkan sikap pertobatan dan kerendahan hati. 

Bagi orang Kristen, ini bukan sekadar simbol tetapi tanda ajakan untuk memperbaiki diri dan mengarahkan hidup kepada Tuhan serta sesama. 

Karena itu dalam masa ini Gereja mengajak dan mengundang umat beriman untuk berdoa, berpuasa dan berbagi sebagai wujud pertobatan. 

Semua ini merupakan panggilan kasih dari Allah untuk kita supaya setiap pribadi tetap setia mencintai Tuhan dan sesama, meskipun seringkali manusia menyimpang dari kehendak-Nya. 

Warna abu  memiliki dua gradasi. Ia mendekati putih namun bukan putih (abu-abu terang), juga  mendekati hitam tapi bukan hitam (abu-abu gelap). 

Abu yang ditandai di dahi melambangkan kondisi bukan hitam-bukan pula putih− seperti keadaan manusia yang sering berada dalam ketidakjelasan di dunia yang juga penuh dengan ketidakpastian. 

Dalam kenyataan hidup, manusia kerap terjebak dalam situasi dilematis dan sulit mengambil keputusan  karena kompleksitas persoalan yang saling berkaitan tidak mudah dihadapi sendiri. 

Keadaan ini melukiskan kebebasan manusia redup karena dihimpit oleh  berbagai gejolak dunia (VUCA). 

Karena itu memasuki masa prapaskah Tuhan mengajak dan mengundang kita untuk memurnikan identitas diri dalam pertobatan sehingga identitas kita terlihat jelas, bukan di antara, abu-abu, dan tidak jelas. 

Sebagai umat Kristiani kita merasa bersyukur dan berbangga karena setiap tahun, Tuhan mengajak kita untuk selalu memurnikan diri dalam masa ini, sehingga kita tidak hidup dalam keabu-abuan. 

Abu di dahi bukan menandakan situasi kekaburan melainkan melambangkan sikap penuh pertobatan, kerendahan hati dan kesadaran manusia akan kefanaannya. 

Dengan demikian dalam masa keheningan agung ini, selama empat puluh hari kita mempunyai waktu untuk bertobat, berpuasa, berderma  dan berpantang sebagai persiapan batiniah untuk menyambut kebangkitan Yesus Kristus pada paskah nanti.

Keteladanan Yesus selama Empat Puluh Hari

Selama empat puluh hari ke depan umat Kristiani berjalan bersama Tuhan Yesus dalam tapak “Via Dolorosa”--merenungkan kisah sengsara wafat dan kebangkitan-Nya. 

Selama empat puluh hari kita diajak untuk menapaki pertobatan dalam hidup. 

Yesus sendiri selama empat puluh hari dicobai iblis berulang-ulang. Di balik kepedulian palsu, janji, dan tawaran manis, iblis menyisipkan sebuah rencana busuk untuk menjebak Yesus dalam keadaan kemunafikan mereka. 

Selama empat puluh hari dan malam di padang gurun Yesus dicobai tiga kali. 

Ia digoda oleh iblis untuk mengubah batu menjadi roti sebagai cobaan jasmani, dicobai untuk menjatuhkan diri dari tebing yang tinggi sebagai cobaan unutk mencari popularitas, dan Yesus dicobai untuk memiliki seluruh kerajaaan apabila Ia menuruti kehendak iblis sebagai cobaan akan kekuasaan. 

Tawaran-tawaran itu terlihat sangat menyenangkan mata. Namun semua itu tidak berarti di mata Yesus. Ia mampu mengendalikan diri-Nya dengan penuh kesadaran. 

Ia sadar bahwa manusia bukan hanya hidup dengan makanan dan minuman karena itu Ia berpuasa. 

Ia sadar bahwa manusia bisa melakukan sesuatu tanpa harus populer dan diakui banyak orang dan Ia pun sadar bahwa manusia bisa berkuasa atas diri sendiri tanpa harus mengedepankan hasrat untuk menguasai orang lain karena toh  bisa saja melukai banyak hati. 

Melihat perjalanan Yesus selama empat puluh hari dan malam, kita dipanggil untuk menjadi murid sejati dengan meneladani keteguhan-Nya. 

Kesadaran diri menjadi kunci untuk mengendalikan godaan-godaan duniawi. Kesadaran nilai moral (sosial, agama budaya) menjadi jembatan umat Kristiani untuk melewati masa ini dengan lebih kuat. 

Karena itu kita diajak untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan pengampunan, setia membaca dan merenungkan Firman Tuhan, melakukan meditasi dan berefleksi serta melatih kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan dan menghindari hal-hal negatif. 

Dengan demikian dalam masa prapaskah ini iman kita semakin dimurnikan untuk tetap setia, fleksibel dalam tindakan memperkuat rasa solidaritas  dan teguh dalam harapan. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved