Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Pariwisata NTT dan Ilusi Keramaian

Promosi yang bertumpu pada visual semata sering berhenti pada tahap datang, foto, lalu pulang. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Eunike Gegung 

Oleh: Eunike Gegung
Dosen Administrasi Bisnis, FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam beberapa tahun terakhir tampak kian semarak. 

Media sosial dipenuhi foto Labuan Bajo, Pulau Komodo, perbukitan Sumba, pantai-pantai Rote, hingga laut biru Alor

Jumlah wisatawan meningkat pascapandemi dan sering dianggap sebagai indikator keberhasilan pembangunan pariwisata. 

Namun, di balik euforia tersebut, ada persoalan mendasar yang belum terjawab tuntas, wisatawan datang banyak, tetapi tidak tinggal lama. 

Rata-rata lama tinggal wisatawan di NTT masih berkisar satu hingga dua malam. 

Baca juga: Opini: Nilai Moral Upacara Reba di Kampung Turekisa dalam Perspektif Moral Kristiani

Bahkan di Labuan Bajo sebagai Destinasi Super Prioritas, sebagian besar wisatawan hanya menetap dua hingga tiga hari. Dampaknya terasa nyata. 

Perputaran ekonomi pariwisata belum optimal, usaha pariwisata di luar titik-titik populer belum menikmati manfaat signifikan, dan kontribusi sektor ini terhadap PDRB daerah masih terbatas.

Kondisi tersebut sejalan dengan Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional (IPKN) 2024 yang menempatkan NTT di peringkat 16 dari 34 provinsi dengan skor 3,96, di bawah rata-rata nasional. 

NTT dinilai memiliki kekuatan pada aspek kebijakan pariwisata dan daya saing harga, namun masih lemah pada lingkungan pendukung, kualitas SDM, infrastruktur layanan pariwisata, serta keberlanjutan. 

Ini menunjukkan bahwa persoalan utama NTT bukan kekurangan daya tarik, melainkan belum optimalnya kualitas pengalaman wisata. 

Labuan Bajo menjadi cermin paradoks tersebut. Dari sisi keunikan, kawasan ini sudah berada di kelas dunia. 

Namun, pola kunjungan masih bersifat singgah. Wisatawan datang untuk Komodo dan wisata bahari, lalu pergi tanpa menjelajahi Flores daratan, apalagi melanjutkan perjalanan ke wilayah NTT lainnya. 

Labuan Bajo ramai, tetapi belum sepenuhnya berfungsi sebagai pengungkit pariwisata regional.

Masalah ini erat kaitannya dengan strategi pemasaran yang masih berorientasi pada jumlah kunjungan dan promosi visual. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved