Sabtu, 25 April 2026

Opini

Opini: Universitas Merdeka Berpikir - Secuil Kisah dari Halaman Kampus Merdeka Malang

Kampus beraroma khas, unik dan bermakna. UNMER berbeda dengan kampus lain yang memiliki style sama.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Gusty Rikarno, Pejalan Sunyi Literasi NTT 

Opini: Universitas Merdeka Berpikir - Secuil Kisah dari Halaman Kampus Merdeka Malang

Oleh: Gusty Rikarno
Pejalan Sunyi Literasi NTT

POS-KUPANG.COM - Jika benar hidup hanyalah sebatas cerita, maka saya adalah sepihan bahasa semesta yang ingin mengabadikan diri dalam satu cara.

Menulis hingga bernafas dalam kata dan membiarkan kata itu berbicara. Keputusan telah diambil dan langkah pertama sudah diayun.

“Mulai saja, biarkan semesta menyelesaikannya”. Kalimat ini, adalah cara saya merayakan setiap “misteri” kehidupan.

Memanggil energi semesta dari sabang hingga Mauarke, dari Kalimatan hingga Kupang-NTT. Kami di sini, di “halaman” kampus Universitas Merdeka (UNMER) Malang

Kami diterima di sini. Hujan dan angin berhenti sejenak. Sebagai tuan rumah yang  bekerja berdekatan dengan UNMER malang, Ibu sisil dan Pak Ali Rahmat menyambut kami dengan gembira.

Memperkenalkan Kota Malang dalam caranyanya yang khas. Ada senyum yang tulus, kata dalam suara lembut dan bahasa tubuh yang jujur.

Kami disuguhkan bahan cerita yang biasa tetapi bernas. Di titik ini, saya mengingatkan diri bahwa stroberi dan apel memang nikmat tetapi yang jauh lebih bergisi adalah persaudaraan, kebersamaan dan kekompakan di lorong sunyi Pascasajarja UNMER

Di sudut penginapan jalan sigura-gura, kami biasa menghabiskan kopi dan kisah yang renyah. Pak Rianto bercerita tentang Aceh dan segala keunikan di dalamnya.

Dari wilayah “Serambi Mekah”, sesekali ia menyebut tentang GAM (Gerakkan Aceh Merdeka) dan kerinduan mayoritas penduduknya untuk selalu  hangat dalam dekapan Garuda dan Merah-Putih.

Sementara Wihelmus yang senang dipanggil Wempy, bercerita tetang Papua. Tanah yang dititipkan surga di ujung Timur Indonesia. Kerinduan tetap sama. Ingin utuh dan bermakna dalam tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara Pak Ali bercerita tentang Pondok Pesantren, dengan sekian banyak “harta” terpendam di dalamnya. Menurutnya, adab di atas segalanya.

Apalah artinya gelar, jabatan dan kekayaan jika tidak memiliki “adab” yang baik. Sementara saya, seperti pejalan kaki yang berjuang mengerti semua isi cerita tersebut. Beginilah cara semesta berbicara. Seperti mimpi tapi nyata. Saya sedang berada di jalan pulang menuju hati dan pikiran sendiri. 

Pada halaman Kampus UNMER, saya mengerti satu hal. Indonesia adalah “rahim” yang utuh, bertumbuh dan berbuah dalam keanekaragaman.

Di sinilah, kami belajar berpikir tentang bagaimana seharusnya berpikir. Merakit fakta (fenomena) agar mampu “berbicara” dalam satu sudut pandang berbeda.

Menentukan tema, judul, paradigma, pedekatan, metode dan sebagainya adalah cara kami ingin berarti. Kami adalah anak negeri yang berjalan dalam irama yang tidak biasa. Para “petarung” yang berikhtiar dalam sunyi untuk tidak meninggalkan gelanggang sebelum pertarungan dimenangkan. 

Internship Penelitian Sosial A’la UNMER Malang

Langit Nusa Tenggara Timur belum sepenuhnya cerah. Cerita yang “tidak biasa” selalu datang dari salah satu provinsi kepulauan di ujung timur-selatan ini.

Ada angin dan hujan yang hadir bagai sahabat karib. Kompak dan bersemangat. Sementara itu narasi “keterbelakangan” sesekali hadir, menusuk dan menembus.

Di situasi begini, sebaiknya tetap di rumah. Memeluk api tradisi, peradaban dan sikap konsitensi untuk terus menyalakan pelita ketimbang selalu menghabiskan energi mengutuk kegelapan. 

Oh ya, di baru-baru ini, cerita tentang seorang seorang anak Sekolah Dasar yang “bundir” karena disinyalir ibunya yang adalah janda tidak mampu membelikan balpoint dan buku untuknya yang setara dengan harga sepuluh ribu rupiah.

Cerita ini langsung menggetarkan langgit Indonesia bahkan dunia. Sebuah “tamparan” halus tetapi meninggalkan jejak refleksi mendalam.

Apakah di titik ini negara gagal? Entahlah. Satu hal yang pasti, kami ingin merubah garis nasib melalui dunia pendidikan. Kami sesungguhnya butuh sekolah gratis ketimbang makanan gratis. Itu saja. 

Sejujurnya di musim dan bulan begini, saya merasa lebih nyaman berada di rumah. Apalagi saya adalah seorang wiraswasta. Pengangguran terencana.

Ada kopi yang walau tidak terlalu manis tetapi tetap hangat. Namun, benarlah cerita tua itu. Dibalik seorang laki-laki hebat (berpura-pura hebat), selalu ada perempuan yang setia berdiri dan menopang.

Sang kekasih (mama dari anak-anak), secara diam-diam membelikan tiket pesawat.  Memaksa saya untuk segera tiba di kampus ini. UNMER Malang.

Kampus beraroma khas, unik dan bermakna. UNMER berbeda dengan kampus lain yang memiliki style sama. Dipagari tembok, jauh dari kebisingan dunia dan membangun menara unggul dalam satu tagline, “kampus berdampak”. 

UNMER seperti deretan etalase nasi rawon yang bisa “dinikmati” oleh semua pencari ilmu dari berbagai latar belakang arah mata angin baik suku, agama, ras dan budaya.

Tidak ada batas dan syarat khusus. Semua orang berhak “berbelanja” ilmu pengetahuan dan keterampilan di tempat ini. Sebuah kampus yang ikut merasakan lebih dekat dan dalam terhadap berbagai getaran fakta dan fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. 

Kami di semester dua, kelas doktoral. Lebih banyak tertawa dan bercada ria.  Untuk saya (kami) yang datang dari daerah, perjumpaan ini semacam “tamasya intelektual”.

Kalau ada yang menilai (khususnya kakak tingkat yang sedang serius mempersiapkan diri mengikuti ujian proposal dan hasil), kami adalah bunyi yang nyaring tetapi kosong, mungkin ada benarnya.

Terkadang saya berpikir, apakah yang ilmiah itu harus selalu tegang dan menakutkan? Namun satu hal yang pasti, saya (kami) menenteng draf proposal yang belum utuh bahkan hanya sebatas tema kecil yang belum tuntas dan masih sulit dinilai layak. Untuk itulah kami diundang hadir. 

Di hadapan kami semua, tepatnya di Aula Pascasarjana UNMER, Ketua Prodi S3 Ilmu Sosial UNMER Malang, Prof. Dr. Drs. Bonaventura Ngarawula, MS membuka cakrawala konsep berpikir sekaligus alasan rasional kenapa di musim yang tidak biasa ini kami harus hadir di UNMER.

Prof. Bonaventura dikenal sebagai guru besar yang aktif dalam pengembangan ilmu sosial–humaniora, khususnya dalam bidang yang berkaitan dengan filsafat, pendidikan, atau kajian sosial.

Ia menekankan pentingnya memahami esensi pendekatan kualitatif yakni ekplorasi mendalam tentang fenomena sosial dan pengalaman manusia, mengenal konteks ilmiah dalam setting natural tanpa manipulasi variabel dan menegaskan pentingnya peneliti dalam interpretasi dan konstruksi makna. 

Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo sebagai pemateri pertama menyajikan konsep dasar penelitian kualitatif. Kata kunci penelitian kualitatif adalah memahami atau mengerti.

Hal ini terlihat jelas dalam karya-karyanya seperti penelitian kualitatif, studi kasus, fenomenologi, Hermeneutika dan penelitian berbasis makna (meaning-centered research).

Ia menekankan bahwa penelitian sosial dan pendidikan tidak cukup dijelaskan dengan angka, tetapi harus memahami makna yang hidup dalam kesadaran subjek.

Dalam filsafat ilmu, ia banyak menjelaskan Perbedaan paradigma positivistik dan post-positivistik, ontologi, epistemologi, dan aksiologi penelitian dan hakikat kebenaran dalam ilmu sosial.

Ia menegaskan bahwa ilmu sosial tidak mencari hukum universal seperti ilmu alam, tetapi memahami realitas sosial sebagai konstruksi makna.

Lebih lanjut, pemateri kedua disajikan secara sederhana dan renyah oleh Prof. Dr. H. Agus Sholahuddin dengan materi terkait persepektif pendekatan kualitatif dari problem statement sampai novelty hasil penelitian. Banyak hal yang disampaikannya termasuk ciri-ciri tinjauan pustaka yang baik.

Menurutnya, dalam kajian pustaka, informasi yang diuraikan harus konsisten (relevan) dengan pokok masalah penelitian, topik yang dibahas terlihat jelas dan jernih, antara uraian yang satu dengan uraian yang lain harus tersambung secara sitematis, logis dan mudah dimerngerti serta informasi yang disajikan seimbang antara yang pro terhadap ide peneliti dan yang kontra terhadap ide peneliti.

Prof. Agus adalah akademisi Indonesia yang dikenal dalam bidang sosiologi agama, studi Islam, dan kajian sosial-keagamaan kontemporer.

Banyak menekuni bidang keilmuan sosiologi agama, radikalisme dan moderasi beragama, fundamentalisme, pluralisme, moderasi Islam dan relasi agama-negara.

Pemateri terakhir adalah Dr. Catur Wahyudi. Ia menyajikan materi diseminasi aplikasi dan pengantar praktek penelitian kualitatif.

Menurutnya, para mahasiswa pascasarjana harus memahami secara utuh gab antara yang seharusnya dan yang senyatanya, antara yang ideal dengan fakta prakmatis yang terjadi.

Selain itu, hindari dalam praktek penelitian kualitatif yang mengeksplorasi issue yang tidak qualitativeness, inkosistensi rumusan masalah, tujuan, fokus dan data-data penelitian yang disajikan. Akh, masih banyak lagi. Tidak elok jika saya harus tampilkan semuanya. 

Tiba-tiba saya betah di sini. Ingin mendirikan tiga kemah. Satu untuk Rianto dan kawan-kawan dari wilayah Barat Indonesia. Yah, jangan lagi berpikir sendiri dan berniat merdeka sendiri. Kemah yang satu untuk Wihelmus, saya dan kawan-kawan dari Timur Indonesia.

Mari kita merdekakan Papua dan Indonesia Timur dalam pikiran dan kesejahteraan. Kemah terakhir untuk Bang Ali Rahmat, Mbak Sisil dan kawan-kawan di daratan Jawa dan Kalimantan.

Bersamalah kita melangkah sampai akhir. Fokus, lokus dan tempus penelitian kita boleh berbeda tetapi darah dan nafas kita tetap abadi untuk menjaga Indonesia dengan pikiran dan adab. 

Kelas sehari internship penelitian sosial a’la UNMER Malang, mengajak kami  untuk berpikir sebelum belajar dan ber-aksi. Benar. Kami berpikir untuk belajar dan sudah terlampau tua untuk belajar agar bisa berpikir.

Kami sudah berpikir banyak hal bahkan untuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu kami pikirkan. Namun,  bagaimana harus berpikir secara sistematis, logis dan berdampak, itu adalah alasan utama kami hadir dan bersama air, mengalir sampai ke jauh dalam ke-merdeka-an berpikir. 

Universitas Merdeka (Berpikir)
 
Prof. Mudjia selalu meyakinkan kami, kalau filsuf itu adalah kami yang terus resah dengan banyak fakta (fenomena), menyelami akar persoalanya untuk kemudian tampil menawarkan solusi.

Karenanya, filsafat harus dijadikan “fondasi “cakar ayam” agar menemukan paradigma berpikir agar bisa masuk pada landasan teori, pendekatan, metode dan sebagainya.

Trinitas penelitian itu adalah fokus, lokus dan tempus. Akh, rumit ya? Saya botak-kan kepala biar terlihat cerdas dan mampu berpikir. Saya mencoba “mengawinkan” Universitas Merdeka Malang sebagai Universitas Merdeka berpikir dari empat arah mata angin. 

Pertama, merdeka berpikir bukan sekadar “bebas berpendapat”, tetapi suatu kondisi batin dan intelektual di mana seseorang mampu menggunakan akal budinya secara otonom, kritis, dan bertanggung jawab.

Konsep ini sangat kuat dalam tradisi filsafat modern, terutama pada gagasan Immanuel Kant melalui semboyannya Sapere Aude (beranilah menggunakan akal budimu sendiri). Immanuel Kant (1724–1804) adalah filsuf besar zaman pencerahan (Aufklärung).

Ia dikenal sebagai pemikir yang “mendamaikan” rasionalisme dan empirisme melalui apa yang ia sebut sebagai kritik yakni penyelidikan batas dan kemampuan akal manusia.

Ada tiga karya besarnya yakni Critique of Pure Reason (1781) tentang batas dan struktur pengetahuan, Critique of Practical Reason (1788) tentang moralitas dan kebebasan serta Critique of Judgment (1790) tentang estetika dan teleologi.

Dalam konteks internship penelitian sosial a’la UNMER Malang, Sapere Aude adalah seruan keberanian intelektual. Bukan sekadar “pintar”, tetapi berani menggunakan kecerdasan.

Memerdekakan pikiran jauh lebih bermakna dan produktif dari sekadar kata merdeka yang lebih bersifat politis. Mungkin masih ingat Mitologi Gua-nya Plato.

Ia menggambarkan sekelompok manusia yang sejak kecil terbelenggu di dalam gua. Mereka hanya bisa melihat bayangan benda-benda di dinding gua, yang dipantulkan oleh cahaya api di belakang mereka.

Bagi para tahanan itu, bayangan itu adalah kenyataan. UNMER menyadarkan kami (mahasiswa) jika dunia luar jauh lebih nyata daripada bayangan dan matahari adalah sumber cahaya dan kebenaran.

Kami memiliki tanggung jawab untuk kembali dan membimbing yang lain, meskipun berisiko ditolak. Semisal, paradigma postpositivistik itu unik dan menarik tetapi tidak banyak orang mendalaminya. 

Kedua, merdeka berpikir sebagai kesadaran kritis. Dalam tradisi filsafat kritis, terutama pada Paulo Freire, merdeka berpikir adalah proses conscientização (penyadaran kritis). Artinya, manusia sadar bahwa realitas sosial bisa dipertanyakan. 

Tidak menerima ketidakadilan sebagai “nasib”, berani membaca dunia, bukan hanya membaca teks. Merdeka berpikir di sini adalah pembebasan dari penindasan struktural dan mental.

Pendidikan harus membangkitkan kesadaran kritis terhadap struktur penindasan, mampu membaca dunia (reading the world) sebelum membaca kata (reading the word) dan tidak menerima ketidakadilan sebagai takdir.

Cakrawala penelitian kualitatif a’la UNMER bakal menjadi “oleh-oleh” saat kami kembali ke medan karya. Kembali mengabdi di pelosok negeri dan menegaskan bahwa pendidikan sebagai praktik pembebasan.

Jika pendidikan tidak membebaskan, maka ia sedang melanggengkan penindasan. Sesungguhnya, tujuan pendidikan adalah humanisasi, emansipasi, transformasi sosial. Dengan demikian, kehadiran kami di UNMER Malang adalah untuk pendidikan itu sendiri dan gelar hanyalah bonus.

Ketiga, merdeka berpikir sebagai keaslian (eksistensial). Dalam filsafat eksistensial, seperti pada Jean-Paul Sartre, kebebasan berpikir adalah kondisi ontologis manusia. Manusia terkutuk untuk bebas.

Ia bertanggung jawab atas cara ia memahami dunia. Ia tidak bisa menyalahkan sistem sepenuhnya atas pikirannya. Merdeka berpikir berarti hidup secara autentik, tidak sekadar meniru kesadaran kolektif.

Gagasan paling terkenal dari Sartre adalah eksistensi mendahului esensi. Jika pisau diciptakan dengan tujuan tertentu (esensinya sudah ditentukan), manusia tidak demikian. Manusia ada dulu, kemudian menentukan dirinya.

UNMER Malang, memanggil yang jauh dan mendekap yang dekat. Mengajak kembali ke inti terdalam diri dan bisa bertanya, who am I? Kami hadir dalam ragam profesi dan konteks bidang karya.

Oleh karena itu, saya (kami) yang terkutuk untuk bebas itu seharusnya mampu “membebaskan” yang lain dan diri sendiri dalam satu cara yang rasional, profesional, terukur dan terarah. 

Keempat, dalam Konteks pendidikan Indonesia khususnya dalam gagasan Ki Hadjar Dewantara, merdeka berpikir berarti pendidikan yang memanusiakan manusia.

Bukan pendidikan yang menyeragamkan pikiran, menghafal tanpa memahami, takut pada perbedaan. Tetapi pendidikan yang menumbuhkan daya cipta, Menghormati kebudayaan, Mengembangkan karakter merdeka.

Dengan demikian, merdeka berpikir bukan, bebas menghina, bebas menyebar hoaks, bebas tanpa dasar argumentasi. Kebebasan tanpa nalar berubah menjadi anarki; nalar tanpa kebebasan berubah menjadi dogma. 

Kami (nahasiswa doktoral) adalah “petarung” yang mengerti jalan tuju dan jalan pulang. Pribadi yang tergerak untuk “bermakna” bagi yang lain.

Sebuah ikhtiar untuk berdiri di atas akal budi sendiri tanpa kehilangan kerendahan hati untuk terus belajar. UNMER Malang memberi “obat penawar” agar kami tetap menjaga  keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab, kritik dan empati, otonomi dan solidaritas.

Di titik ini, merdeka berpikir bukan hanya konsep teoretis tetapi fondasi “cakar ayam” pembentukan manusia yang tidak mudah dikendalikan oleh sensasi, tetapi setia pada substansi.

Epilog

Pada sudut halaman Kampus UNMER Malang, saya (kami) paham satu hal bahwa kampus bukan gedung dengan segala perangkat adminstrasinya tetapi ruang batin tempat pikiran diuji, nurani diasah, dan keberanian dilatih.

Di halaman kampus inilah, kemerdekaan berpikir menemukan napasnya, “menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia yang memiliki keunggulan kompetitif di tingkat nasional dan intenasional”. Tentunya ini bukan hanya visi atau sebagai slogan, tetapi sebagai laku hidup akademik.

Setiap diskusi yang jujur, setiap perdebatan yang argumentatif, dan setiap pencarian makna yang sungguh-sungguh adalah tanda bahwa universitas masih setia pada jati dirinya, membebaskan akal dari ketakutan dan membebaskan ilmu dari kepentingan sempit.

UNMER Malang adalah universitas merdeka  berpikir yang mampu menumbuhkan tanggung jawab intelektual. Melalui kegiatan intenship penelitian sosial, saya (kami) menyalakan daya kritis dan  mengolahnya menjadi kesadaran.

Halaman kampus menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan perubahan, antara teks dan konteks, antara gagasan dan realitas sosial.

Akhirnya, kisah dari Kampus Merdeka Malang ini bukan hanya cerita tentang institusi, tetapi tentang manusia-manusia yang memilih untuk berpikir dengan merdeka. Sebab universitas bukanlah bangunan yang berdiri dari beton, melainkan komunitas akal budi yang terus bergerak. 

Terima kasih untuk hati yang luas, kata-kata yang membekas dan ikhtiar untuk bersama sampai akhir. Sampai bertemu di satu titik, waktu yang tepat kita merayakan kebebasan berpikir itu dalam satu cara. Saya (kami) kembali untuk pulang.

Membakar sejuta harap, UNMER Malang tetap menjadi kampus yang menyalakan harapan dan kemerdekaan berpikir. Kita memiliki perbedaan waktu satu jam tetapi kita memiki sejuta hari yang bisa dinikmati bersama. Kiranya semesta menuntaskan semua niat baik kita. (*)
 
Ikuti opini dan berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved