Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Kasih Sayang yang Bocor

Jika kasih sayang hanya dirayakan dengan simbol romantik, maka ia tak lebih dari pesta sehari yang lupa pada penderitaan setahun. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MAURIANUS F.W DA CUNHA
Maurianus F. W. da Cunha 

Karena perundungan yang kerap terjadi di lingkungan sekolah bukanlah cuma kenakalan biasa, melainkan juga sebagai cermin budaya. 

Dalam hal ini, guru, orang tua, dan pengelola sekolah perlu secara bersama-sama membangun ekosistem empati, ketimbang sekadar menempel poster anti perundungan di dinding dan pagar sekolah. 

Selain itu, sekolah harus menjadi lingkungan di mana seorang guru bukan hanya mengajar keahlian di bidangnya, melainkan juga mampu mengajar kemanusiaan. 

Dengan demikian, kasih sayang akan menjelma menjadi sebuah etika kolektif dan tidak lagi berhenti pada relasi interpersonal. 

Keempat, perlunya konsistensi dalam pengawalan yang dilakukan oleh media dan publik. Yang harus diingat adalah anak bukanlah komoditas berita. 

Media yang beretika tidak mengeksploitasi korban anak, tetapi mendorong akuntabilitas kebijakan. 

Karena pada dasarnya sorotan harus menjadi penggerak akuntabilitas, bukan pendorong sensasi dan pengejar viral. Di samping itu, perlu adanya ruang partisipasi anak dalam forum-forum kebijakan lokal. 

Anak-anak juga membutuhkan wadah untuk berekspresi dan didengarkan. Karena kasih sayang lebih dari sekadar kata-kata manis. 

Kasih sayang adalah keadilan, perlindungan, dan keberpihakan pada yang tak bersuara. 

Jika kasih sayang hanya dirayakan dengan simbol romantik, maka ia tak lebih dari pesta sehari yang lupa pada penderitaan setahun. 

Namun, jika kasih sayang dimaknai sebagai sebuah keinginan untuk melihat anak merayakan cinta bukan dengan trauma; keinginan melihat anak memandang dunia bukan sebagai musuh yang harus dikalahkan, tetapi sebagai rumah yang menjaganya, maka ia menjadi sebuah kompas moral bagi kebijakan, hukum, dan budaya sosial. 

Cokelat bisa habis dan bunga bisa layu. Tetapi kebijakan yang adil dan budaya yang berperikemanusiaan adalah potret kasih sayang yang tidak musiman. 

Semoga kita tak lagi menanti tragedi untuk mengingat bagaimana cara mencintai. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved