Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Kasih Sayang yang Bocor

Jika kasih sayang hanya dirayakan dengan simbol romantik, maka ia tak lebih dari pesta sehari yang lupa pada penderitaan setahun. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MAURIANUS F.W DA CUNHA
Maurianus F. W. da Cunha 

Oleh: Maurianus F. W. da Cunha
Alumnus IFTK Ledalero, Flores. Saat ini  bekerja dan berdomisili di Kota Bolzano, Italia Utara.

POS-KUPANG.COM - Kasih sayang adalah rumah yang memberikan rasa aman dan kenyamanan. Semestinya ia menjadi tempat paling tenang untuk jiwa setiap insan. 

Namun sayangnya, ia berubah menjadi barang komoditas tahunan yang dipasarkan setiap 14 Februari. Ada kenyataan pahit yang tersembunyi di balik euforia perayaan itu. 

Kita sibuk merayakan perasaan, tapi sebenarnya kita lalai dalam kebocoran kasih sayang yang terjadi dalam kehidupan kita, di mana anak-anak yang seharusnya mendapat perlindungan dari kita, malah menjadi korban. 

Seperti yang ramai diberitakan banyak media, seorang anak SD di Ngada kehilangan nyawanya. 

Baca juga: Opini: Valentine di Tengah Dunia yang Lelah- Masihkah Kita Percaya pada Cinta?

Ia meninggal dalam pusaran salah tata kelola kebijakan, di samping merosotnya kepedulian dan kontrol sosial yang ada dalam masyarakat. 

Padahal, idealnya kebijakan publik harus melindungi yang paling rentan sesuai dengan prinsip keadilan distributif (Rawls, 1971). 

Sementara itu, di belahan dunia lain, publik dikejutkan oleh tragedi yang menimpa anak-anak dalam perdagangan manusia, seperti yang terungkap lewat Jeffrey Epstein Files yang di dalamnya melibatkan orang kaya dan berkuasa. Ini mempertunjukkan dinamika eksploitasi yang jauh lebih sadis. 

Kenapa Selalu Anak-Anak? 

Anak tidak punya kekuasaan. Anak tidak punya mikrofon di ruang rapat parlemen. Anak tidak punya lobi di arena kekuasaan. 

Anak tidak punya saldo bank yang bisa menggoncangkan keputusan elit. Yang ada pada mereka hanyalah hak untuk tumbuh dan hak untuk dicintai. 

Namun, seringkali kalah cepat dengan kepentingan orang dewasa. Anak kerap menjadi bilangan kecil di catatan kaki kebijakan yang suka mengukur segalanya dengan efisiensi. 

Ironisnya, seringkali kita gemar mengajar dan mendidik anak untuk sopan, tapi lupa mengajar kebijakan untuk berperikemanusiaan. 

Kita rajin menasihati anak untuk tidak saling menyakiti dan pentingnya menghargai orang lain, tapi membiarkan budaya perundungan tumbuh di sekolah. 

Tak lupa kita juga kerap mengecam segala bentuk eksploitasi, tetapi sering gagap ketika pelakunya berjas rapi dan memiliki jaringan luas. 

Di sini relasi kuasa turut memperparah kerentanan ini. Kekuasaan bekerja melalui jaringan relasi yang dapat memproduksi normalisasi kekerasan seperti yang ditekankan Foucalt (1980). 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved