Minggu, 3 Mei 2026

Opini

Opini: Amanat Agung dan Tanggung Jawab Gereja di Tengah Realitas

Amanat Agung bukan sekadar teks pengutusan, melainkan pengakuan iman praksis tentang siapa gereja itu dan untuk apa dihadirkan di dunia. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK POS-KUPANG.COM
Heryon Bernard Mbuik 

Oleh: Heryon Bernard Mbuik
Dosen PGSD FKIP Universitas Citra Bangsa Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Amanat Agung (Matius 28:18–20) adalah salah satu teks Alkitab yang paling dikenal oleh umat Kristen. Hampir setiap gereja mengutipnya, hampir setiap pelayanan misi menjadikannya slogan. 

Namun, di tengah berbagai krisis sosial yang kita hadapi kemiskinan, ketimpangan pendidikan, dan tantangan hidup dalam masyarakat yang majemuk muncul pertanyaan mendasar: apakah Amanat Agung sungguh dipahami dan dijalankan secara utuh oleh gereja?

Tidak jarang Amanat Agung direduksi menjadi aktivitas penginjilan verbal atau program institusional. 

Gereja sibuk “pergi” dalam arti geografis, tetapi kurang hadir secara mendalam dalam realitas penderitaan masyarakat. 

Akibatnya, gereja tampak aktif secara internal, namun kehilangan relevansi sosial.

Amanat Agung: Bukan Sekadar Perintah Terakhir

Secara teologis, Amanat Agung bukanlah sekadar perintah terakhir Yesus sebelum naik ke surga. 

Ia adalah puncak dari seluruh kehidupan dan pelayanan Yesus dari inkarnasi, pelayanan publik, penderitaan, kematian, hingga kebangkitan-Nya. 

Baca juga: Opini: Saatnya Pendidikan Gratis Tanpa Syarat untuk Warga Nusa Tenggara Timur

Yesus tidak hanya menyuruh murid-murid-Nya untuk “pergi”, tetapi Ia sendiri telah lebih dahulu “pergi”: meninggalkan kemuliaan-Nya, masuk ke dalam realitas manusia, dan hadir di tengah mereka yang miskin, tersingkir, dan terpinggirkan.

Ketika Yesus berkata, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yohanes 20:21), Ia sedang menegaskan bahwa misi gereja adalah kelanjutan dari misi-Nya sendiri. 

Dengan kata lain, Amanat Agung tidak dapat dipisahkan dari cara Yesus hidup dan melayani.

Teolog Indonesia, Eka Darmaputera, pernah mengingatkan bahwa iman Kristen sejati tidak pernah bersifat privat. 

Iman selalu memiliki dimensi publik dan sosial. Gereja yang setia kepada Kristus adalah gereja yang berani hadir dan bertanggung jawab di tengah realitas bangsanya.

Gereja dan Tantangan Pendidikan

Dalam konteks Indonesia, salah satu tantangan besar yang kita hadapi adalah persoalan pendidikan. 

Di berbagai daerah, termasuk Nusa Tenggara Timur, masih banyak anak yang kesulitan mengakses pendidikan yang layak. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved