Minggu, 26 April 2026

Opini

Opini: Darah Pisang

Penyakit darah pusang ini tergolong paling destruktif bagi hortikultura, ketahanan pangan lokal, dan kehidupan petani kecil. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Kerentanan tanaman pisang terhadap penyakit darah pisang tidak hanya soal patogen dan biologi penyakit. Ia juga bersumber dari sistem budidaya yang diterapkan secara luas. 

Di banyak wilayah, petani menanam varietas yang seragam secara genetis dalam luasan besar. Praktik monokultur ini memudahkan patogen untuk menemukan inang yang tepat dan menyebar cepat.

Masalah lain adalah penggunaan bibit yang tidak bersertifikat. Bibit anakan sering dipindahkan antarwilayah tanpa pemeriksaan kesehatan tanaman. 

Bibit yang tampak sehat secara visual bisa saja sudah membawa patogen di dalamnya. Ketika ditanam di kebun baru, penyakit pun menyebar.

Sanitasi kebun yang buruk juga memperparah risiko. Banyak petani belum menerapkan pencucian dan sterilisasi alat pertanian secara rutin. 

Sisa tanaman yang sakit sering dibiarkan di lahan setelah panen atau ketika tanaman mati. Sisa tersebut menjadi reservoir patogen yang memudahkan siklus infeksi berikutnya.

Di sisi kebijakan dan kelembagaan, pisang sering dipandang sebagai komoditas tanaman rakyat yang “tumbuh sendiri”. Akibatnya, dukungan riset, penyuluhan, subsidi, dan perlindungan tanaman tidak sekuat komoditas ekspor atau perkebunan besar. 

Sistem pendukung yang lemah ini membuat petani kecil lebih rentan terhadap ancaman penyakit.

Implikasi terhadap Ketahanan Pangan

Ketika produksi pisang terganggu oleh penyakit darah pisang, dampaknya tidak berhenti di kebun. Pasokan karbohidrat murah bagi masyarakat berkurang. 

Bagi banyak rumah tangga pedesaan, pisang adalah sumber pangan penting saat stok makanan lain menipis.

Penurunan produksi lokal memaksa pasokan dari luar daerah. Rantai distribusi lebih panjang, biaya naik, dan ketergantungan meningkat. Sistem pangan lokal pun lebih rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan logistik.

Hilangnya varietas lokal mempersempit diversitas genetik, cadangan ketahanan pangan. Tanaman sehat bukan sekadar aset agronomi, tapi fondasi ketahanan pangan sesungguhnya. Tanpa itu, ketahanan pangan hanya menjadi slogan kosong.

Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Petani

Bagi petani kecil, serangan penyakit darah pisang sering kali berarti kehancuran ekonomi. Tanaman yang mati sebelum sempat berbuah artinya modal bibit, tenaga kerja, dan waktu terbuang sia-sia. 

Kebun yang terinfeksi membutuhkan waktu lama sebelum kembali produktif, bahkan bertahun-tahun.

Situasi finansial keluarga petani langsung terdampak. Karena pisang sering menjadi bagian dari pendapatan rumah tangga, kegagalan panen berarti hilangnya sumber pendapatan utama untuk biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved