Opini
Opini: Darah Pisang
Penyakit darah pusang ini tergolong paling destruktif bagi hortikultura, ketahanan pangan lokal, dan kehidupan petani kecil.
Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Pisang bukan sekadar buah konsumsi sehari-hari. Di banyak wilayah Indonesia, pisang menjadi bagian penting sistem pangan lokal, berperan sebagai makanan pokok alternatif, sumber karbohidrat murah, dan pendapatan jutaan petani kecil.
Buah ini juga melekat pada budaya makan karena mudah diolah dan terjangkau.
Namun produksi pisang kini menghadapi ancaman serius: penyakit darah pisang.
Penyakit ini tergolong paling destruktif bagi hortikultura, ketahanan pangan lokal, dan kehidupan petani kecil.
Jika dibiarkan, dampaknya tidak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga mengguncang ekonomi rumah tangga, mata pencaharian petani, dan stabilitas pangan di pedesaan.
Baca juga: Arak Boba Basmi Penyakit Darah Pisang
Kerentanan ini diperparah oleh pola tanam seragam secara genetik dan teknologi sederhana yang digunakan petani kecil.
Tanaman yang seragam memudahkan budidaya, tetapi meningkatkan risiko infeksi.
Penyakit darah pisang menunjukkan bagaimana biologi patogen bersinggungan dengan kelemahan sistem produksi dan kelembagaan, menuntut perhatian luas dari petani, konsumen, media, peneliti, dan pembuat kebijakan.
Mengenal Penyakit Darah Pisang
Penyakit darah pisang adalah penyakit tular tanah yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. Cubense. Patogen ini menyerang sistem pembuluh xilem tanaman, yang berfungsi mengangkut air dan nutrisi.
Ketika jaringan pengangkut ini terserang, aliran nutrisi terhambat dan tanaman menunjukkan gejala layu.
Tanda khas penyakit ini adalah perubahan warna jaringan pembuluh menjadi cokelat kemerahan, seolah “darah” di batang pisang. Dari sinilah nama penyakit darah pisang.
Gejala di daun atau batang sering baru terlihat saat infeksi parah. Deteksi dini pun sulit dilakukan.
Penyebaran penyakit ini pun beragam. Spora patogen bergerak melalui tanah yang terkontaminasi, air irigasi, bibit yang terserang, hingga alat pertanian yang tidak disterilkan.
Pergerakan manusia dan distribusi bibit tanpa pengawasan juga mempercepat penyebaran dari satu wilayah ke wilayah lain.
Patogen ini memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa. Spora bisa tetap hidup di dalam tanah selama bertahun-tahun tanpa inang. Karena itu, tanah yang pernah terinfeksi tetap menjadi sumber ancaman jangka panjang bagi tanaman baru yang ditanam di lokasi sama.
Kerentanan Sistem Budidaya Pisang
Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Darah Pisang
penyakit darah pisang
Opini Pos Kupang
Pulau Flores dan Lembata
Kabupaten Lembata
hortikultura
| Opini: Dunia yang Kehilangan Tatanan |
|
|---|
| Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan |
|
|---|
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)