Sabtu, 25 April 2026

Opini

Opini: Ketika Anak SD Kehilangan Bahasa untuk Meminta Tolong

Kasus ini menjadi semakin reflektif ketika diketahui anak berasal dari desa terpencil, dengan keterbatasan akses internet dan media digital. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI AWALIYAH M SUWETTY
Awaliyah M Suwetty 

Oleh: Awaliyah M Suwetty.S.Kep.,Ns.M.Kep
Dosen STIKes Maranatha Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Beberapa waktu terakhir, publik dikejutkan oleh kabar meninggalnya seorang anak kelas 4 sekolah dasar akibat bunuh diri di NTT. 

Tragedi ini mengguncang nurani bersama, bukan hanya karena usia korban yang masih sangat belia, tetapi karena peristiwa tersebut mematahkan asumsi lama bahwa bunuh diri adalah persoalan orang dewasa atau remaja.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, anak usia sekolah dasar belum memiliki kemampuan berpikir abstrak yang matang, termasuk memahami kematian sebagai akhir kehidupan yang permanen. 

Baca juga: Opini: Tragedi YBR dan Ketidakhadiran Negara di NTT

Karena itu, peristiwa bunuh diri pada anak tidak dapat dimaknai sebagai keputusan rasional atau pilihan sadar untuk mengakhiri hidup. 

Yang terjadi adalah distres emosional yang begitu berat, sementara anak tidak memiliki bahasa, ruang aman, maupun pendampingan untuk menyalurkannya.

Kasus ini menjadi semakin reflektif ketika diketahui bahwa anak berasal dari desa terpencil, dengan keterbatasan akses internet dan media digital. 

Fakta ini membantah anggapan bahwa ide bunuh diri selalu bersumber dari media sosial atau tontonan daring. 

Anak belajar dari lingkungan terdekatnya—dari percakapan orang dewasa, dari ekspresi kelelahan hidup, dari rasa malu sosial, dan dari pengalaman keseharian yang penuh tekanan. 

Dalam kondisi demikian, kemiskinan tidak hadir sebagai konsep ekonomi, melainkan sebagai pengalaman sosial yang melukai rasa aman dan harga diri anak.

Yang sering luput disadari, hampir selalu ada sinyal sebelum tragedi terjadi. 

Anak menjadi lebih diam, menarik diri, kehilangan minat, atau mengucapkan kalimat bernada putus asa. 

Namun sinyal ini kerap tidak terbaca, dinormalisasi, atau bahkan dianggap sebagai bagian dari “kenakalan” atau “drama anak”. 

Ketika tidak ada satu pun orang dewasa yang benar-benar mendengar, anak akhirnya kehilangan jalan pulang secara emosional.

Tragedi ini seharusnya menggeser cara kita bertanya. Bukan lagi “mengapa anak itu melakukan ini”, melainkan “di mana kita ketika anak itu membutuhkan perlindungan emosional”. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved