Opini
Opini: Anak Itu Pergi di Saat Tak Ada yang Datang
Kita menangisi anak tersebut, tetapi tidak menginterogasi tatanan yang membuat buku menjadi kemewahan.
Oleh: Rafael Lumintang
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Ketika melihat media sosial tentang Nusa Tenggara Timur ( NTT), saya kembali dikejutkan dengan sebuah peristiwa tragis yang menyayat hati.
Seorang anak di Ngada, lebih tepatnya di daerah Jerebuu mengakhiri hidupnya. Peristiwa ini juga menggemparkan masyarakat Indonesia pada umumnya, dan masyarakat NTT pada khususnya.
Dikutip dari news.detik.com, penyebab siswa kelas IV SD ini gantung diri terungkap.
Pemicunya korban diduga kecewa karena tidak dibelikan buku dan pulpen untuk keperluan sekolah.
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan pada malam sebelum kejadian, korban berinisial YBR minta uang kepada ibunya untuk beli buku tulis dan pulpen.
Namun, permintaan itu tak bisa dipenuhi ibunya karena kondisi ekonominya yang susah.
Baca juga: Gubernur NTT Menangis di Hadapan Keluarga Almarhum YBR di Rumah Duka Jerebu’u Ngada
“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” ungkap Dion Rosa, selasa (3/2/2026).
Sekali lagi, kisah ini sangat menyayat hati karena ia begitu sederhana, nyaris tak masuk akal, namun justru di situlah letak kengerian sejatinya.
Kematian ini tidak lahir dari kebesaran yang spektakuler, melainkan dari kekurangan kecil yang dibiarkan menjadi biasa, dari ketidakmampuan yang dinormalisasi.
Ia adalah akumulasi dari pengabaian yang berlangsung lama. Maka, kasus ini menuntut lebih dari sekadar belas kasihan atau air mata sesaat.
Ia menuntut keberanian moral untuk bertanya dengan jujur, sejauh mana kita, sebagai negara, masyarakat, dan sesama manusia telah membiarkan kemiskinan merampas harapan paling dasar, bahkan pada seorang anak?
Ketika Kekurangan Kecil Menjadi Beban yang Terlalu Berat
Bagi keluarga yang tergolong mampu, tentu masih relatif aman secara ekonomi, buku dan pulpen adalah benda remeh untuk dibeli.
Namun, berbeda cerita dengan keluarga yang kurang mampu, ia bukan sekadar alat belajar, “melainkan tanda pengakuan” bahwa ia layak berada di sekolah, layak bermimpi, dan layak diperhitungkan.
Hal ini akan menjadi tragis, apabila kebutuha paling fundamental itu tak terpenuhi, yang runtuh bukan hanya proses belajar, tetapi “harga diri dan rasa masa depan.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rafael-Lumintang-02.jpg)