Senin, 25 Mei 2026

Opini

Opini - Mengkritisi OSOP

Program OSOP ( One School  One Product ) atau Satu Sekolah Satu Produk (Unggulan) diluncurkan secara resmi pada tanggal 24 Juli 2025.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Dosen FKIP Undana, Tan Feliks. 

Kedua, dalam konteks itu, kurikulum yang berlaku di sebuah sekolah tidak lagi bersifat satu dan sama untuk semua anak dan semua sekolah yang sederajat.

Kurikulum itu harus disesuaikan dengan bakat/potensi, minat, dan kebutuhan belajar anak-anak.  Itulah, sejatinya, esensi dari “freedom to learn“ (baca, misalnya, Carl R Rogers, Freedom to Learn for the 80’s, 1983), merdeka belajar bagi semua murid, apapun kondisinya.

Jika kurikulumnya masih satu dan seragam untuk semua anak dan semua sekolah, dan isi kurikulum itu berlebihan seperti sekarang, serta kurang relevan dengan potensi unik dari setiap anak, kemampuan riil setiap anak pun tidak akan pernah bisa ditumbuhkembangkan di dan setelah sekolah secara maksimal.

Itu, pada gilirannya, menimbulkan masalah sosial seperti sekarang ini: kemiskinan, termasuk prevalensi stunting yang tinggi, pengangguran, dan sikap/karakter yang tidak terpuji, seperti korupsi, intoleransi, kurang kritis, kurang kreatif, antikolaborasi, dan kurang komunikatif.

Masalah sosial itu terjadi karena, antara lain, ketika masih di sekolah, anak-anak itu sulit menjadi mandiri dan berkembang secara maksimal. Sebab apa yang dipelajarinya atau yang diajarkan kepadanya tidak selalu sesuai dengan potensi/bakat, minat dan kebutuhan belajarnya.

Padahal, sejatinya, inti dari filosofi student-centered learning, adalah kegiatan belajar dan mengajar yang berpusat pada bakat, minat dan kebutuhan belajar seorang murid.  

Pada titik ini penting untuk guru dan orang tua melakukan dialog pendidikan secara rutin dengan seorang anak untuk mengetahui apa sesungguhnya yang diinginkan seorang anak dalam hidupnya, yaitu apa cita-cita atau imajinasi masa depannya sesuai bakat dan minatnya (Bdk. Paulo Freire, Cultural Action for Freedom, 1970).

Mengetahui imajinasi masa depan itu membantunya  menemukan kegiatan belajar yang sesuai yang membuat cita-citanya, pada saatnya, tercapai.  Tanpa dialog itu, seorang guru, termasuk orang tua si anak, tidak akan pernah tahu apa sesungguhnya cita-cita anak itu dalam hidupnya.  Jika itu tidak diketahui, bagaimana mungkin seorang guru atau orang tua bisa membimbingnya untuk menggapai cita-citanya?

Jadi, pada tataran ideal, Program OSOP, sejatinya, baik.  Walaupun demikian, untuk membuat lebih relevan dengan kebutuhan setiap murid di setiap sekolah, di NTT secara khusus, di Indonesia secara umum, perlu ada penyesuaian dalam hal praktiknya di sekolah.  

Termasuk dalam penyesuaian itu adalah perlunya perlakuan inklusif untuk juga  tetap ikut menumbuhkembangkan bakat, minat, dan aspirasi murid yang tidak masuk dalam kategori “satu produk” unggulan sekolahnya.

Itu, sejatinya, dapat dilakukan jika kurikulum di setiap sekolah di manapun disesuaikan dengan potensi, minat, dan kebutuhan belajar setiap murid. Ini penting karena bisa membuat mereka bisa total dalam belajar dan bekerja di dan setalah sekolah.  

Tidak ada orang yang tidak rajin bekerja, termasuk belajar, jika yang dilakukan sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhan belajarnya, bukan? Karena itu, mungkin, istilah OSOP kurang tepat.  Yang tepat, kiranya, OSMPs, One School Many Products. Satu sekolah banyak produk (unggulan).  Namun apa arti sebuah nama? (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved