Senin, 25 Mei 2026

Opini

Opini - Mengkritisi OSOP

Program OSOP ( One School  One Product ) atau Satu Sekolah Satu Produk (Unggulan) diluncurkan secara resmi pada tanggal 24 Juli 2025.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Dosen FKIP Undana, Tan Feliks. 

Oleh: Tans Feliks
(Dosen FKIP Undana)

POS-KUPANG.COM - Program OSOP ( One School  One Product ) atau Satu Sekolah Satu Produk (Unggulan) diluncurkan secara resmi pada tanggal 24 Juli 2025, oleh Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena di hadapan para kepala sekolah  SMA/SMK/SLB se-NTT, di Aula Komodo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.  

Pada kesempatan itu, Gubernur Melki menegaskan: “Ke depan, setiap sekolah harus punya produk unggulan.  Yang jago tata boga, produksi makanan; yang jago pertanian, hasilkan produk pertanian; yang jago digital, hasilkan aplikasi dan media. Semua harus berdampak langsung ke masyarakat.“ 

OSOP, menurut Gubernur Melki, seperti yang ditulis Gusty Rikarno dalam artikelnya di Cakrawalantt.com, diperlukan untuk “mendorong kemandirian sekolah dengan cara menciptakan satu produk unggulan khas yang berbasis pada potensi lokal di setiap sekolah.

Program ini bertujuan menjadikan sekolah tidak hanya tempat belajar secara akademis, tetapi juga motor penggerak ekonomi kreatif dan kewirausahaan bagi murid dan lingkungan sekitarnya“(https://cakrawalantt.com/2026/01/pak-gubernur-dunia-pendidikan-ntt-mau.htm?m=1).

Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, sebagai perpanjangan tangan Gubernur, Program OSOP memiliki manfaat besar untuk menciptakan SDM yang bermutu yang  mandiri, kreatif, kompetitif, inovatif, berjiwa bisnis, terampil, berkarakter mulia, khas, kolaboratif, dan siap bekerja dan/atau menciptakan lapangan kerja karena terbiasa dengan learning by doing ketika belajar di sekolah. Tulisan  Agung Hermanus Riwu, yang berjudul “OSOP: Transformasi Pendidikan NTT” (Korannttnews, 26 Januari, 2025) menegaskan dukungan yang total terhadap Program OSOP tersebut.

Walaupun demikian, jika dikritisi secara lebih dalam, OSOP, tampaknya, punya banyak kelemahan (baca, misalnya, Dr. Yustina Ndung, “Membongkar Ideologi di Balik OSOP NTT : Antara Sekolah sebagai 'Inkubator UMKM ' dan ' Laboratorium Hidup,' 25 Januari, 2026, https://www.cakrawalantt.com; Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom, “OSOL dan/atau OSOP? Derma Gagasan untuk Pendidikan NTT Berkualitas, Merata, Partispatif, dan Cerdas,” Januari 2026, https://www.cakrawalantt.com; dan, Tans Feliks, Program OSOP dan Ide “Freedom to Learn” yang Terlupakan, Januari 2026, https://www.cakrawalantt.com).  

Persoalannya, kemudian, adalah apakah karena kritik tersebut OSOP harus dibatalkan.  Saya pikir, tidak.  Tetap harus diteruskan, tetapi dengan beberapa penyesuaian untuk membuatnya lebih selaras dengan prinsip pedagogis yang berterima secara universal.  Apa saja penyesuaian itu?  Ada dua hal penting.

Pertama, kata “One“ atau “Satu” dalam frasa “OSOP“ harus dipertegas, yaitu bahwa „satu“ itu tidak berarti “hanya satu,“ dan mengabaikan 1001 talenta/bakat, minat dan kebutuhan belajar setiap anak dalam sebuah sekolah.

Dengan demikian, setiap anak dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajarnya masing-masing, apapun itu, tetap mendapat tempat terhormat dalam setiap kegiatan belajar dan mengajar di sebuah sekolah.

Artinya, fokus kegiatan belajar dan mengajar di sebuah sekolah tidak hanya terpusat pada anak-anak yang sangat cerdas dan/atau sangat terampil, tetapi juga pada anak-anak yang, mungkin, tampak kurang cerdas dan kurang terampil karena alasan tertentu.  Mereka semua harus diperlakukan sama.  

Bagaimana itu diterjemahkan dalam filosofi ”satu sekolah satu produk unggulan?  Sejatinya sederhana. Jika sebuah sekolah, misalnya, memutuskan untuk membuka kebun terung sebagai produk unggulan, para murid yang bakat, minat dan kebutuhannya terkait dengan itu, kemudian, boleh fokus bekerja dan belajar untuk membuat kebun terung itu berhasil.

Sedangkan murid yang bakat, minat, dan kebutuhan belajarnya tidak terkait dengan itu, harus diberi ruang untuk mengerjakan aktivitas lain yang terkait dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajarnya.

Apapun itu: entah itu menulis puisi atau membuat kursi atau melukis atau menjahit atau  memperkuat kemampuan matematikanya atau berlatih main bola kaki atau apapun.  

Ini pada giliarannya akan membuat mereka sangat total dalam belajar sambil bekerja (learning by doing di sekolah), dalam mengerjakan kebun tomat, misalnya, jika itu menjadi produk unggulan sekolahnya. Juga sangat total dalam bekerja setelah selesai sekolahnya karena dia tahu apa yang dikerjakannya adalah masa depannya, masa depan keluarganya dan, bahkan, masa depan bangsanya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved