Opini
Opini - Pak Gub, Dunia Pendidikan NTT Mau Dibawa Ke mana?
Program OSOP ini merupakan bagian dari visi yang lebih besar, yaitu One Village One Product (OVOP).
Resikonya, kurikulum menjadi teknokratis, refleksi filosofis, literasi mendalam, dan dialog pikiran tersisih. Padahal di NTT, guru justru dibutuhkan sebagai penjaga api peradaban tentang nilai daya juang, berpikir kritis dan menghargai proses.
Jika OSOP dijalankan tanpa kritik, sekolah kehilangan fungsi emansipatoris, siswa tumbuh pragmatis, bukan reflektif. Pendidikan menjauh dari cita-cita pembebasan.
Dalam jangka panjang, NTT bisa menghasilkan, lulusan “rajin produksi”, tetapi miskin daya kritis, daya tafsir, dan daya cipta makna.
Ada sebuah bencana yang sepertinya direncanakan. Hujan dan angin perubahan akan tiba dan meluluhlantahkan daya ingat dan kemampuan berpikir kritis generasi muda NTT.
Saat imanjinasi dan logika pasar merasuki para guru dan kepala sekolah maka sekolah bermutu diukur oleh penghasilan dari produk sekolah dan seberapa besar uang yang disumbangkan sekolah untuk meningkatkan PAD.
JIka tiba ditingkat itu, segeralah berjaga-jaga karena bencana kemiskinan, kebodohan dan kemerosotan karakter sudah di depan mata. Jika masih belum percaya, perhatikan baik hasil literasi dan Test Kompetensi Akademik (TKA) anak-anak NTT. Berada di nomor terakhir secara nasional.
Dari OSOP ke OSOL (One School One Literacy)
Pak Gub, sekali lagi saya bertanya, pendidikan kita mau dibawa ke mana? Saya tidak sedang menolak produktivitas tetapi mari kita mengubah fondasinya.
Dalam konteks ini, produk di sekolah adalah akibat lanjut dari kemampuan berpikir kritis, kreatifitas dan inovasi membaca peluang yang datang dari para guru dan siswa.
Ekonomi harus tumbuh dari kesadaran dan bukan berada dalam nada “perintah” tetapi diselimuti kata himbauan. Karena sesungguhnya, bahaya laten OSOP di NTT bukan pada programnya, melainkan pada ideologi dibaliknya. Pendidikan dipaksa tunduk pada logika pasar dan keluar dari ruang pembebasan.
Seyogianya, pendidikan berangkat dari konsistensi menjadi api literasi dan dengan sendirinya akan berdialog dengan ekonomi. Oleh karena itu ada beberapa butir pikiran yang sekiranya bisa dijadikan bahan pertimbangan atas pertanyaan, pendidikan NTT mau dibawa ke mana?
Pertama, jangan jadikan sekolah sebagai “kuda beban” agar PAD NTT meningkat. Jika itu yang terjadi maka kita telah merusak generasi dengan seluruh imajinasinya dalam logika pasar yang serba instan.
Anak-anak bakal tiba pada kesimpulan bahwa sekolah hanya berfungsi untuk mengumpulkan materi. Padahal sekolah membuka wawasan berpikir.
Tempat yang tepat bagi generasi muda untuk merawat imajinasi, harapan, rasa diterima dan dihargai. Ideologi pasar dibalik program OSOP seakan menyederhanakan sebuah proses dan nilai diri para guru.
OSOP meningkatkan motivasi para sekolah untuk berkarya dengan cepat dan berjuang keras menghadirkan gubernur di sekolah. Motivasi sering memaksa seseorang menjadi ideal dan sempurna.
Jika saatnya gubernur berhalangan hadir ke sekolah maka motivasi itu langsung runtuh. Maka yang tersisa adalah warga sekolah merasa tidak berarti, kecewa dan meruntuhkan nilai juang.
Kedua, kematangan berpikir selalu datang dalam satu iklim pendidikan yang membebaskan. Warga sekolah harus diberi ruang dan peluang untuk menumbuhkan diri secara perlahan sesuai dengan masa perkembangannya.
Para guru dan siswa hendaknya sama-sama diberdaya sebagai sebuah ekosistem yang hidup. Biarkan mereka berproses tanpa sebuah intervensi program yang kesannya “dipaksakan”. Karenanya, prodak yang tepat untuk ditagih adalah prodak gagasan yang lahir dari konsistensi.
Konsistensi menerima keterbatasan. Boleh lambat, boleh lelah asala jangan berhenti. Prodak gagasan semisal dalam bentuk buku karya guru atau siswa datang dari sikap konsistensi untuk terus membaca dan berlatih menuangkan pikiran dalam gagasan.
Warga sekolah diajak untuk menghidupkan mading sekolah, membaca satu sampai dua jam sehari, menghasilkan majalah sekolah, pojok baca dan sebagainya.
Dari proses yang konsisten ini, mereka bakal mengerti mengapa di sekolahnya harus menanam cabe dan bukan membuat ikan abon. Ia mampu menjembatan konteks, peluang pasar dan memasarkannya secara kreatif.
Ketiga, dalam hal tertentu, OSOP mungkin sedikit lebih dekat SMK karena karakternya sebagai sekolah vokasi dimana prodak yang dihasilkan sejalan dengan ilmu yang diterima.
Namun sekali lagi, logika pasar yang ideal dan menuntut sempurna bakal meruntuhkan rasa percaya diri para guru dan siswa/i SMK yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana di sekolahnya. Mereka akan “dibuly” oleh masyarakat dan sekolah lain karena tidak mampu memamerkan hasil karya secara maksimal.
Pada titik ini, pak gub menciptakan luka dan ketidakadilan permanen. Dunia sekarang dituntut untuk berkolaborasi dan bukan kompetisi. OSOP cenderung pada logika pasar yang harus berkompetisi.
Keempat, OSOP yang dilatenkan bakal memutuskan mata rantai pertumbuhan berpikir dan alur pendidikan secara nasional dan global.
Para guru dan kepala sekolah menuntut anak untuk segera berbunga dan berbuah dalam waktu tiga tahun semasa SMA/SMK.
Akan tiba pada kondisi prematur berpikir, logika hasil, bermental instan dan mengabaikan inti terdalam dari pendidikan yakni berproses.
Jika kemudian saatnya anak NTT beralih langkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, apakah keahlian “instan” yang didapatnya saat SMA bisa dijadikan bekal untuk diterima di sekolah kedinasan dan Perguruna Tinggi Negeri. (*)
Ikuti berita dan opini lain di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-ok.jpg)