Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Opini - Pak Gub, Dunia Pendidikan NTT Mau Dibawa Ke mana?

Program OSOP ini merupakan bagian dari visi yang lebih besar, yaitu One Village One Product (OVOP).

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Gusty Rikarno, S.Fil, M.I.Kom. 

Adapun poin-Poin inti konsep OSOP NTT adalah : 1) pengembangan potensi lokal dimana sekolah wajib mengidentifikasi dan mengembangkan potensi khas di wilayahnya (misalnya pertanian, kelautan, atau kerajinan) menjadi produk bernilai ekonomis tinggi. 2), kemandirian & kewirausahaan yang dapat membentuk mental wirausaha siswa agar mandiri dan memiliki keterampilan praktis.

Program ini sudah berjalan seperti SMAN 1 Amarasi dengan produk tomat dan SMK Negeri Bukapiting Alor dengan abon tuna. 3), menghidupkan kolaborasi dengan melibatkan dunia usaha dan pemerintah untuk memperkuat ekosistem pendidikan vokasi.

Program OSOP ini merupakan bagian dari visi yang lebih besar, yaitu One Village One Product (OVOP), yang bertujuan membangun ekonomi NTT dari tingkat desa, komunitas, dan sekolah. 

Saya terdiam. Semenjak dilantik setahun silam, Pak Gubernur (Melki Laka Lena) banyak melakukan audiensi dan menghadiri berbagai bentuk acara seremonial. Saya bangga.

NTT butuh pemimpin yang ingin banyak mendengar dan melihat lebih tajam. Ia banyak mengunjungi sekolah sehingga perlahan menjadi sahabat para guru, kepala sekolah dan generasi muda NTT”.

Meminta sekolah untuk menanam adalah bagian dari caranya mendekat generasi muda dengan alam, bertumbuh perlahan seperti cabe dan berbuah dari keringat dan air mata.

Dari proses menaman, para guru diajarkan untuk mengoptimal lahan dan melakukan perubahan dari cara yang paling sederhana dan murah. 

Namun, mari kita membedah konsep OSOP ini secara perlahan. Jika dinilai sepintas, konsep OSOP ini keren dan selaras dengan kondisi NTT dimana PAD-nya sangat rendah.

OSOP adalah jalan alternatif dan efektif untuk mendongkrak PAD NTT. Selain itu, selaras dengan isu pengembangan karakter dan jiwa entrepreneurship generasi muda. Namun jika dicermati lebih dalam, program OSOP berpotensi menggeserkan orientasi pendidikan.

Pendidikan direduksi menjadi alat produksi ekonomi. Murid diposisikan sebagai calon produsen dan bukan subjek belajar yang sedang bertumbuh.

Secara filosofis, OSOP bertentangan dengan hakikat pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia (humanisasi), pembentukan nalar, etika, dan imajinasi, bukan sekadar pencipta barang. 

OSOP membawa logika pasar terlalu dini ke ruang sekolah. Nilai kepala sekolah, guru dan siswa diukur dari produk, keberhasilan belajar direduksi menjadi laku atau tidak laku.

Akibatnya, murid belajar berhitung untung-rugi, bukan berpikir kritis. Sekolah berubah menjadi inkubator UMKM mini, bukan ruang refleksi.

Dalam konteks NTT, yang masih menghadapi dehidrasi literasi dasar (membaca dan menulis), OSOP bakal melemahkan daya kritis dan nilai konsistensi bergeser menjadi sekadar motivasi. 

Selain itu, guru SMA misalnya, terjebak peran teknis yang bukan merupakan keahliannya. Dalam OSOP, guru didorong menjadi trainer produksi, fungsi guru sebagai pendidik kritis dan reflektif terpinggirkan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved