Opini
Opini - Pak Gub, Dunia Pendidikan NTT Mau Dibawa Ke mana?
Program OSOP ini merupakan bagian dari visi yang lebih besar, yaitu One Village One Product (OVOP).
Semuanya dalam ketidakpastian. Namun ada satu hal yang berada jauh di kedalaman diri. Mereka mendapati diri berada dipersimpangan jalan.
Program One School One Product (OSOP) yang diluncurkan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. Apakah program ini bentuk lain dari program Tanam Jagung Panen Sapi di masa pemerintahan gubernur sebelumnya?
Atau OSOP ini adalah jalan paling cepat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tengah kebijakan efisiensi? Diberi makanan bergisi gratis lalu setelahnya mengisi tanah dalam polibek untuk menanam cabe, terung dan sebagainya?
Saya mendeteksi aura kegelisahan di wajah mereka. Duduk tenang dengan secangkir kopi panas adalah caraku mengimbangi situasi ini. Tiba-tiba seseorang datang mendekat dan berbicara.
“Pak Gusty, saya ini masih berstatus PLT kepala sekolah. Saat ini saya belum bisa berkomentar banyak apalagi berbicara terkait program sekolah. Saya jalani saja. Sepulang dari sini, saya rapat dengan para guru untuk mengatur waktu membersihkan lahan di samping gedung sekolah. Kami mau menanam terung. Banyak yang suka makan terung termasuk para guru dan peserta didik. Kalau hasilnya banyak, nanti kami coba tawarkan ke orang tua murid dan masyarakat sekitar. Saya berharap banyak, sekiranya hasilnya cukup, bisa bantu meningkatkan PAD. Intinya, program pertama kami adalah tanam terung. Di musim hujan begini, sepertinya bisa tumbuh.”
Saya menatapnya sebentar sebelum akhirnya ia berlalu. Bendaharanya datang dan memintanya untuk tandatangan pada sebuah dokumen. Seorang lagi datang medekat dengan sebatang rokok di tangannya. Seorang kepala sekolah yang cukup senior dalam usia dan pengalaman.
Dalam beberapa tahun ke depan ia akan masuk masa pensiun. “Kapan balik?”, tanyaku sekenanya sambil tersenyum. Ia sedikit kaget dan mengambil posisi duduk di sampingku.
“Aduh, ternyata Pak Gusty. Kami belum bisa pulang karena kapal belum jalan. Mungkin tiga hari lagi. Kami tetap di sini, sampai cuaca sudah membaik. Oh ya, saya sudah dua priode sebagai kepala sekolah. Saya mungkin ke sekolah lain atau di sekolah yang sama tetapi sebagai guru biasa. Kita nikmati saja”.
Saya menangkap keresahan di hatinya. Dia menyalakan rokok dan dihembuskannya dengan paksa. “saya ada tanam cape di sekolah. Berharap nanti pak Gubernur bisa datang di sekolah dan kita panen raya. Nanti saya info Pak Gusty untuk datang liput”.
OSOP : Prematurisasi Logika Pasar
Di hadapan para kepala sekolah SMA/SMK/SLB se-Provinsi NTT, pada 24 Juli 2025 silam di Aula Komodo, Gubernur NTT (Melki Laka Lena) menjelaskan inti konsep One School One Product ( OSOP ).
“Ke depan, setiap sekolah harus punya produk unggulan. Yang jago tata boga, produksi makanan; yang jago pertanian, hasilkan produk pertanian; yang jago digital, hasilkan aplikasi dan media. Semua harus berdampak langsung ke masyarakat,” tegas Gubernur.
“NTT Mart ini akan jadi seperti Alfamart atau Indomaret, tapi isinya produk NTT. Keripik, minuman lokal, tenun, kosmetik herbal, dan lainnya. Ini jadi wadah promosi sekaligus alat belajar ekonomi,” ujar Melki.
OSOP diyakininya mampu mendorong kemandirian sekolah dengan cara menciptakan satu produk unggulan khas yang berbasis pada potensi lokal di setiap sekolah.
Program ini bertujuan menjadikan sekolah tidak hanya tempat belajar secara akademis, tetapi juga motor penggerak ekonomi kreatif dan kewirausahaan bagi siswa dan lingkungan sekitarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-ok.jpg)