Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Opini: Inkarnasi Sabda- Kristus dalam Jahitan Vergilius

Bagi pembaca yang terdidik dalam tradisi klasik, membaca cento adalah sebuah pengalaman terjebak di antara dua dunia.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIO F LAWI
Mario F. Lawi. 

Adapun ringkasan bagian cento selanjutnya sebagai berikut: Karena di bumi ada kekuatan tak dikenal (ignotum numen) yang mengacaukan hati manusia, Allah dari surga turun menjadi manusia. 

Maria, sang Perawan Terpilih, menjaga kemurniannya dengan cinta ilahi, sampai Allah sendiri menjelma melalui tubuh sucinya (baris 8-16). 

Di baris-baris selanjutnya, kisah kemudian beralih ke kabar gembira yang disampaikan Gabriel (baris 17-22). 

Baris-baris setelahnya menunjukkan penerimaan Maria terhadap kabar kelahiran Yesus dengan kerendahan hati (baris 23-31). 

Bagian terakhir dari kisah Natal dalam “Inkarnasi Sabda” adalah baris-baris yang menunjukkan titah Bapa kepada Sang Putra untuk menjelma (baris 32-54) dan narasi tentang kelahiran Kristus (baris 55-62).

Bagian yang paling menyentuh adalah bagaimana penulis menggambarkan hubungan antara Bapa dan Putra. 

Dalam menyusun dialog titah Allah Bapa kepada Yesus untuk turun ke bumi, penyair mengambil baris-baris dari Aeneis yang menggambarkan dialog cinta antara dewi Venus dan putranya, Cupido, serta kesetiaan antara dua sahabat, Nisus dan Euryalus.

Dalam teks Vergilius, Venus dan Cupido mewakili cinta erotis (eros) dan kasih sayang ibu, sementara Nisus dan Euryalus mewakili amor pius—cinta yang tulus, setia, dan rela berkorban (amor pius). 

Dengan memindahkan teks-teks ini ke dalam konteks Inkarnasi, penulis cento menyarankan bahwa peristiwa Inkarnasi adalah manifestasi tertinggi cinta.

Cinta Allah kepada manusia meminjam bahasa kasih sayang ibu dan kesetiaan sahabat untuk menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya datang sebagai penguasa, tetapi sebagai pribadi yang mengambil rupa ciptaan-Nya.

Cento de Verbi Incarnatione adalah bukti nyata bahwa iman dan kebudayaan tidak harus saling menghancurkan. 

Sebaliknya, iman dapat menghuni budaya yang sudah ada, memberikan makna baru tanpa harus melenyapkan keindahan bentuk aslinya. 

Para penyair cento telah menunjukkan bahwa bahasa pagan Vergilius yang indah tidaklah haram, melainkan sebuah wadah pewartaan yang estetis.

Kisah Natal yang disusun dari potongan-potongan epik Romawi ini mengingatkan kita pada hakikat dari perayaan Natal: Inkarnasi

Jika Tuhan dapat menjadi manusia tanpa kehilangan keilahian-Nya, maka Sabda Tuhan pun dapat meminjam bahasa manusiawi—bahkan bahasa penyair pagan—untuk menyatakan diri-Nya.

Melalui penggunaan karya-karyanya cento, Vergilius tidak lagi hanya jadi milik Roma; ia menjadi milik umat Kristiani yang sedang mencari jalan menuju cahaya, dituntun oleh sang bintang. 

Natal dalam Cento de Verbi Incarnatione adalah sebuah jahitan simbolis yang tidak hanya menyatukan bagian-bagian dari puisi Vergilius di masa lalu untuk mengisahkan kehidupan Kristus, tetapi juga menjadi janji masa depan bagi orang-orang yang percaya
kepada-Nya. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved