Opini
Opini: Inkarnasi Sabda- Kristus dalam Jahitan Vergilius
Bagi pembaca yang terdidik dalam tradisi klasik, membaca cento adalah sebuah pengalaman terjebak di antara dua dunia.
Sayangnya, terdapat kekosongan besar (lacunae) di tengah-tengahnya yang kemungkinan besar berisi kisah pelayanan, penderitaan, dan kebangkitan Yesus.
Cento de Verbi Incarnatione langsung menyihir sejak baris-baris pembukanya.
Pencipta mahakuasa dan berbelas kasih di ketinggian, Sesudah memberikan segalanya, berdiri dari surga damai, Mengembuskan cinta ilahi bagi semua makhluk di bumi Yang selalu memuji, menyanyikan nama Bapa dan Putra Dengan hormat yang saleh, nama yang telah dinubuatkan:
“Ia akan memerintah generasi unggul dengan kebenaran sejati, Dan menjalankan seluruh bumi dengan hukum-hukumnya.”
Terjemahan bahasa Indonesia tersebut saya kerjakan dari versi Latin yang ada dalam Corpus Scriptorum Ecclesiasticorum Latinorum, vol. XVI, pars I.
Dalam teks aslinya (Latin), baris pertama berbunyi: “Omnipotens genitor tandem miseratus ab alto.”
Kalimat tersebut adalah sebuah perca yang sangat cerdas, yang bisa kita gunakan untuk jadi contoh keseluruhan bentuk dari sebuah puisi cento.
Frasa “Omnipotens genitor” (Orang tua/pencipta mahakuasa) diambil dari Aeneis Buku 10, baris 668, yang merupakan doa Turnus kepada Jupiter.
Sementara itu, bagian “tandem miseratus ab alto”(akhirnya berbelas kasih dari ketinggian) berasal dari Buku 5, baris 727, saat Anchises berbicara tentang Jupiter sebagai bagian dari ramalan atas masa depan Aeneas.
Di sini terjadi pergeseran yang radikal. Sosok Jupiter, raja para dewa Romawi yang sering kali digambarkan penuh amarah atau terikat pada takdir, kini diganti oleh konsep Allah Kristiani yang penuh kasih.
Tindakan Allah yang turun ke bumi dalam peristiwa Natal bukan lagi sekadar campur tangan dewa dalam urusan pahlawan epik, melainkan sebuah inisiatif keselamatan bagi seluruh umat manusia.
Baris kedua, “postquam cuncta dedit caelo constare sereno,” memodifikasi baris Vergilius yang aslinya menggambarkan seorang navigator (Palinurus) yang memeriksa cuaca demi keamanan pelayaran armada Troia.
Si penyair menggantikan bentuk “videt” (melihat) dalam baris Aeneis dengan “dedit” (memberikan) untuk baris centonya.
Dalam konteks cento, tindakan memastikan langit yang tenang ini berubah makna menjadi kedaulatan Tuhan yang mengatur alam semesta demi mempersiapkan kedatangan Putra-Nya ke dunia. Navigasi manusiawi digantikan oleh penyelenggaraan ilahi.
Narasi Natal dalam cento ini berlanjut dengan menggambarkan kondisi bumi yang carut- marut oleh “kekuatan tak dikenal” (ignotum numen) yang mengacaukan hati manusia—sebuah metafora bagi dosa. Sebagai jawaban atas kegelapan ini, Allah turun menjadi manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mario-F-Lawi-penyair.jpg)