Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Opini - Antara Ranking PISA dan Kewarasan Anak: Saatnya NTT Menggagas Pedagogi yang Memanusiakan

Setiap kali hasil Programme for International Student Assessment (PISA) dirilis, posisi Indonesia kembali memunculkan kegelisahan.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Luthfi Retriansyah 

Oleh: Luthfi Retriansyah

  • Mahasiswa Doktor Ilmu Pertanian Universitas Sebelas Maret
  • Guru Bahasa Inggris SMK Pertanian Pembangunan Negeri Kupang

POS-KUPANG.COM - Setiap kali hasil Programme for International Student Assessment (PISA) dirilis, posisi Indonesia kembali memunculkan kegelisahan.

Singapura konsisten berada di papan atas dunia, sementara Indonesia masih bertahan di kelompok bawah dalam literasi membaca, matematika, dan sains.

Kekhawatiran publik wajar: bagaimana mungkin kita berbicara tentang bonus demografi dan daya saing, jika kemampuan dasar membaca teks dan memahami angka pun masih lemah?

Di saat yang sama, dari negara negara “juara PISA” justru bermunculan cerita lain. Anak anak hidup di bawah tekanan akademik, takut gagal, cemas menghadapi ujian sejak sekolah dasar, hingga meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental yang terkait dengan stres belajar.

Pertanyaannya: haruskah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT), memilih antara generasi yang berperingkat tinggi tetapi rapuh secara emosional, atau generasi yang lebih bahagia tetapi tertinggal secara akademik?

Sesungguhnya Indonesia tidak perlu memilih salah satu. Kuncinya ada pada pergeseran pendekatan pedagogi: dari pendidikan yang menakut nakuti menuju pendidikan yang menuntut secara akademik, namun tetap memanusiakan peserta didik dengan berpijak pada gagasan Ki Hajar Dewantara dan realitas lokal daerah seperti NTT.

PISA tidak sekadar mengukur hafalan, tetapi kemampuan menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata. Di situ tampak kualitas literasi dan numerasi yang menjadi fondasi bagi kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Dalam beberapa siklus terakhir, Singapura menunjukkan performa sangat tinggi; mayoritas siswanya mencapai bahkan melampaui level minimum yang ditetapkan.

Indonesia, sebaliknya, masih berjuang untuk memastikan sebagian besar anak sekadar mencapai standar dasar. Data ini penting sebagai peringatan bahwa ada masalah dalam kualitas pembelajaran, tetapi ranking dan skor tidak boleh dijadikan satu satunya kompas.

Singapura sering dijadikan contoh keberhasilan reformasi pendidikan. Kurikulumnya kuat, guru direkrut selektif dan dilatih serius, komunitas belajar guru berjalan terstruktur, dan kebijakan relatif konsisten.

Semua ini berkontribusi pada capaian akademik yang mengesankan. Namun berbagai laporan juga menunjukkan sisi lain: tingginya rasa takut gagal, budaya kompetitif yang sangat kuat, serta tekanan besar dari ujian ujian berisiko tinggi.

Bagi sebagian siswa, sekolah bukan lagi ruang tumbuh, melainkan arena seleksi yang menegangkan. Pemerintah Singapura kini mulai melakukan koreksi: mengurangi ujian, mendorong joy of learning, dan memperkuat dukungan kesehatan mental. Artinya, mutu akademik tinggi pun bisa menimbulkan biaya psikologis jika dijalankan dengan kultur yang salah.

Bagi Indonesia, termasuk NTT, pelajarannya jelas: belajar dari keseriusan mengelola mutu, tetapi tidak menyalin budaya tekanan yang mengorbankan kewarasan anak.

Pendekatan pedagogi dapat dipahami sebagai cara pandang guru dan sekolah ketika merancang proses belajar: bagaimana mengajar, memposisikan siswa, serta merancang tugas dan penilaian.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved