Breaking News

Opini

Opini: Duo Monteiro

Sebuah arti simbolis. Sekitar 185 ribu umat Keuskupan Larantuka berada di lembah, berkutat sebagai petani,  ternak, dan nelayan. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROBERT BALA
Robert Bala 

Sebelumnya, saudara sepupunya, Lodovius Emanuel Monteiro bahkan telah menjabat sebagai Kepala Daerah Flores (1952-1959). 

Felix Fernandez, Bupati Flotim 2000-2005 juga adalah anak darii Maria Fatima Monteiro. 

Bila ditambahkan dengan anak mantu bupati Sumba Barat Daya 2016-2021 (Agustinus Niga Dapawole) dan Wakil bupati Sumba Bara Daya (Ndara Tanggu Kaha), maka ‘pasukan monteiro’ tidak hanya dua tetapi malah lebih dari itu. 

Turun Gunung 

Sejarah Monteiro yang terpateri di Larantuka dan menyebar ke NTT malah seluruh Indonesia, membuka kesadaran bahwa terpilihnya Yohanes Hans Monteiro, Pr sebagai Uskup Larantuka tidak membuatnya lebih tinggi.  

Putera Paulo Monteiro, Emanuel Monteiro, bahkan telah menjadi salah satu dari  Triumvirat di  Kerajaan Larantuka. Artinya, meski tidak menjadi uskup pun, Hans dan keluarga besarnya sudah berada di sana. 

Lebih lagi melalui 7 putera dan puteri dari Emanuel Monteiro dan Sarlota King da Costa yakni Gregorius (kakek Uskup Gregorius), Philomena, Yakobus, Hubertus (buyutnya Uskup Hans), Yoseph, Paulus, Maria Fatima telah melahirkan anak, cucu, cece, bahkan buyut  (lapisan 3), dan cangga (4)  dan wareng (5) dengan jangkauan pengaruh yang tidak sedikit. 

Secara pribadi, Yohanes Hans Monteiro juga tidak kalah prestasi. Berada di Austria selama 13 tahun (2005-2018) menunjukkan bahwa ia bisa berkiprah di Eropa. 

Atau juga berada begitu lama di benua biru bisa juga menjadi godaan untuk terus berada di sana karena untuk apa kembali ke Larantuka yang sudah diketahui kondisinya. 

Tidak hanya itu. Sekembali dari Eopa, kini sudah 7 tahun di STFK dan kemudian IFTK Ledalero dengan jabatan sebagai wakil rektor. Terbayang, Hans  sudah mulai merasakan kenyamanan. 

Minimal ia  mulai meretas jenjang akademik yang bagi teman seumuran, mereka sudah lebih jauh.  Penelitian dan Pengabadian kepada Masyarakat tengah ‘sengit-sengitnya’ dilakukan dengan sejumlah impian yang tentu tidak sedikit. 

Bila dianalogkan,  dua posisi terakhir memberikan kenyamanan bak berada di atas bukit (monte). Di sana ada ketenangan, tempat perlindungan, dan tempat yang aman. Kini Hans harus turun bukit (monte). 

Tetapi keberanian untuk turun akan menjadikan Hans dikenal sebagai ‘monte’ (bukit) ‘eiro’ (pekerjaan). Bila dijuluki ‘Monte-eiro’ (Monteiro), maka itu berarti dianggap sebagai pekerjaan dari bukit atau orang bukit. 

Sebuah arti simbolis. Sekitar 185 ribu umat Keuskupan Larantuka berada di lembah, berkutat sebagai petani,  ternak, dan nelayan. 

Selama 51 tahun terakhir bersama Uskup Darius Nggawa SVD dan Uskup Frans Kopong Kung, umat telah menanamkan fondasi Komunitas Basis Gerejani (KBG). Ada hasil berupa partisipasi liturgis yang sangat aktif. 

Tetapi apakah model umat basis seperti di Amerika Latin sebagai pusat gerakan ekonomis dan sosial sudah terwujud? Banyak orang masih ragu-ragu menjawabnya dan Uskup Hans pasti lebih tahu. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved