Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Opini: Harapan Politik Petani Lokal

Minoritas para elit lokal seperti tuan tanah dan raja-raja memanipulasi kerja petani untuk menopang kekuasaan politik mereka. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ANTONIUS RIAN
Antonius Rian 

Berbeda dengan feodalisme pada zaman raja-raja lokal dan kekuasaan asing, pada Pilkada terbaru di seluruh Indonesia, ada satu paket calon Bupati dan Wakil Bupati yang mengusung jargon NTT atau Nelayan, Tani, Ternak. 

Paket calon inipun mendapat suara terbanyak. Itulah paket Tunas, Petrus Kanisius Tuaq dan Muhamad Nazir yang memimpin Kabupaten Lembata saat ini. 

Kemenangan ini menjadi bukti bahwa harapan petani akan sebuah perubahan bukan main-main. 

Kelompok masyarakat ini merindukan sebuah perubahan nyata dalam hidupnya. 

Mereka merindukan jagung titi mereka bisa menjadi kerupuk yang dijual ke berbagai daerah bukan sekadar sebagai konten untuk mencari viral seperti yang pernah dilakukan oleh Kanis Tuaq menjelang Pilkada.

Bahkan Pemda Lembata berencana mengadakan lomba titi jagung antar-OPD sebagai strategi meningkatkan rasa cinta para ASN terhadap kearifan lokal pada HUT ke-26 Otda Lembata.

Terdengar begitu optimis serentak pula bernada sinis. Walaupun demikian, ada ironi, ketika jagung titi dikumandangkan ke langit tetapi di lain sisi, Bupati Lembata justru gencar mempromosikan jagung hibrida yang datang entah dari mana. 

Bupati Lembata terlihat rajin sekali membagikan bibit jagung hibrida kepada para petani yang justru sedang mengancam kedaulatan pangan lokal khususnya jagung warisan leluhur. 

Lalu orang ramai-ramai memberikan pujian tanpa koreksi kritis. Lebih ironis, ASN yang bekerja kantoran dijadikan sebagai peserta lomba titi jagung. 

Tampak tak ada korelasi lomba titi jagung dengan meningkatkan rasa cinta ASN terhadap kearifan lokal ketika masih ada mama-mama yang menjual jagung titi di pinggir jalan sepi pembeli; ketika masih ada penjual ubi yang duduk beralaskan debu di pasar tanpa disiapkan fasilitas yang layak oleh pemerintah.

Betapa ironis ketika jagung titi dibicarakan dari balik gedung kekuasaan tetapi inferioritas terhadap pangan lokal justru diwariskan oleh kekuasaan itu sendiri. 

Coba lihat sendiri; apakah setiap kali ada pertemuan resmi pemerintah, menu-menu yang dihidangkan adalah buah tangan langsung dari petani lokal atau justru datang dari ruang lain dengan alasan palsu “higienis,” menghemat waktu dan elitis? 

Betapa ironis, ketika pemerintah memajang iklan pada hari khusus untuk petani tetapi tuak dan arak milik mama-mama yang dikerjakan oleh suaminya demi masa depan keluarga disita dan dibuang ke selokan penuh sampah. 

Ini bukti bahwa bangsa ini kurang menghormati petani tetapi lebih suka memanipulasinya. 

Padahal yang dibutuhkan adalah kualitas minoritas elit dalam berpikir dan melahirkan kebijakan yang adil bagi petani bukan malah menuduh mereka sebagai penyebab kekacauan saat ada acara pesta karena banyak yang mabuk tuak-arak.

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved