Opini
Opini: Harapan Politik Petani Lokal
Minoritas para elit lokal seperti tuan tanah dan raja-raja memanipulasi kerja petani untuk menopang kekuasaan politik mereka.
Oleh: Antonius Rian
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Dalam setiap kompetisi Pemilu lima tahunan, nama petani selalu disebut paling depan.
Alasannya mungkin karena mayoritas warga pemilih adalah petani tetapi kemungkinan kedua warga petani adalah kelompok masyarakat yang mudah dimanipulasi dalam momen tersebut.
Memanipulasi harapan dan kerja petani sudah berlangsung lama dalam sejarah umat manusia.
Harari dalam buku Homo Sapiens (2017) menggambarkan kisah ini secara apik.
Petani dalam sejarah merupakan kelompok masyarakat yang menopang politik atau kekuasaan bahkan bertahan hingga saat ini.
Minoritas para elit lokal seperti tuan tanah dan raja-raja memanipulasi kerja petani untuk menopang kekuasaan politik mereka.
Baca juga: Opini: Ketika Komodo Disandera Kapital
Namun, minoritas para elit lokal inilah yang justru selalu dikenang dalam buku-buku sejarah.
Harari menulis “sejarah adalah sesuatu yang dilakukan oleh sangat sedikit orang, sedangkan semua orang lainnya membajak sawah dan memikul kantong-kantong air” (ibid).
Dalam sejarah Indonesia, petani adalah kelompok masyarakat yang paling banyak mendapat tekanan politik baik oleh para penjajah asing, maupun elit lokal–tuan tanah, raja-raja yang sehaluan dengan penjajah.
Hal tersebut juga sebagai penegasan atas pernyataan Harari dalam buku Homo Sapiens.
Para elit lokal menjadi kuat, membangun kekuasaan justru salah satunya dengan mengorbankan para petani–hasil bumi mereka dijarah atas nama kekuasaan dan mulut mereka dilarang bicara.
Dalam konteks Nusa Tenggara Timur ( NTT), mungkin banyak kisah para petani yang belum terdokumentasikan secara baik dalam buku-buku sejarah tetapi masih terdengar dalam cerita-cerita lisan tentang nasib mereka di bawah kekuasaan raja-raja lokal terutama ketika hadirnya bangsa asing yang mendukung kekuasaan lokal.
Lalu di manakah para petani dalam sejarah kita? Apakah mereka tak boleh diceritakan dalam sejarah umat manusia tentang keringat mereka yang mengalir percuma di hadapan segelintir elit?
Apakah kita lebih suka omong tentang sejarah kekuasaan? Mungkin demikianlah hingga saat ini kekuasaan selalu menjadi primadona dan petani selalu diam-diam dibalik kekuasaan. Mereka mungkin akan disebut-sebut menjelang Pemilihan Umum.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antonius-Rian.jpg)